Berita Terkini

Cara Urus Perpanjangan SIM Online 2025: Panduan Lengkap, Syarat, dan Langkah-Langkahnya

Wamena - Perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) kini semakin mudah berkat layanan digital yang dimiliki oleh Korlantas Polri. Tanpa perlu antri panjang di kantor Satpas, masyarakat dapat melakukan proses perpanjangan SIM A maupun SIM C secara online dari rumah. Tentunya dengan mengurus perpanjang SIM secara Online ini akan menghemat waktu dan tenaga, proses perpanjang SIM secara online ini juga dirancang agar meningkatkan transparansi pelayanan publik.   Apa Itu Layanan Perpanjangan SIM Online? Layanan perpanjangan SIM online adalah sistem digital yang memungkinkan pemilik SIM melakukan perpanjangan lewat aplikasi resmi tanpa harus datang langsung ke kantor Satpas, kecuali untuk pengambilan fisik SIM apabila memilih metode pengambilan langsung.   Baca Juga: Simaksi 2025: Pengertian, Fungsi, Cara Daftar, dan Aturan Terbaru untuk Pendaki Gunung di Indonesia   Aplikasi Resmi yang Digunakan ·   Digital Korlantas Polri -        Fitur utama: SINAR (SIM Nasional Presisi) -        Tersedia di Play Store dan App Store   Syarat Perpanjangan SIM Online 2025 Agar proses perpanjangan berjalan lancar, pastikan Anda telah memenuhi persyaratan berikut: 1. Dokumen Administrasi ·   E-KTP yang masih berlaku ·   SIM Lama yang akan diperpanjang ·   Tanda Tangan yang dibubuhi di lembar kertas polos, dan kemudian difoto dengan jelas ·   Pas Foto terbaru dengan latar belakang (background) berwarna biru. Pastikan bukan selfie ·   Kemudian siapkan bukti telah mengikuti tes RIKKES Jasmani yang dilampirkan adalah hasil pemeriksaannya. ·   Bukti hasil tes psikologi dari app.eppsi.id   Biaya Perpanjangan SIM Online Berdasarkan PP Nomor 76 Tahun 2020, namun biaya ini belum termasuk administrasi, biaya tes Kesehatan dan juga tes psikologi Berikut rincian biaya pokoknya saja: ·   SIM A dan umum: Rp.80.000 ·   SIM C: Rp. 75.000 ·   SIM B I dan juga B I Umum: Rp.80.000 ·   Sim B II dan juga B II Umum: Rp.80.000   Langkah-Langkah Perpanjangan SIM Online 2025 1. Instal Aplikasi Digital Korlantas Polri 2. Pilih Menu SINAR (Perpanjang SIM) 3. Unggah Dokumen yang diperlukan 4. Lakukan Tes Kesehatan dan Psikologi 5. Lakukan Pembayaran   Batas Waktu Perpanjangan SIM Perpanjangan dapat dilakukan 90 hari sebelum tanggal kadaluarsa. Jika sudah kadaluarsa maka wajib untuk membuat SIM baru. (REZ)  

Ketika Kedaulatan Ke Luar Menjadi Penjaga Harga Diri Indonesia di Panggung Global

Wamena - Kedaulatan ke luar adalah kemampuan sebuah negara untuk berdiri tegak di hadapan dunia mengatur hubungannya dengan negara lain secara bebas tanpa tekanan, tanpa campur tangan, dan tanpa kehilangan jati dirinya. Bagi Indonesia, kedaulatan ke luar bukan hanya urusan diplomasi, tetapi juga martabat yang harus dijaga demi masa depan rakyat. Dalam kehidupan nyata, kedaulatan ke luar tampak ketika Indonesia memutuskan sendiri kebijakan luar negerinya, memilih mitra internasional, dan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil membawa manfaat bagi kepentingan nasional. Diplomat yang Menjaga Nama Baik Bangsa Di sebuah kantor perwakilan Indonesia di luar negeri, para diplomat bekerja tanpa sorotan. Mereka menjadi wajah pertama yang dilihat dunia ketika berbicara tentang Indonesia. Dari menangani warga negara yang bermasalah hingga menyuarakan sikap Indonesia dalam sidang PBB, setiap tugas menjadi refleksi kedaulatan bangsa. “Ketika kami berbicara, dunia mendengar suara Indonesia, bukan suara pribadi,” ujar seorang diplomat muda. Kalimat ini menggambarkan betapa pentingnya menjaga kehormatan negara dalam pergaulan internasional. Melindungi Warga Negara di Tanah Seberang Kedaulatan ke luar juga hadir dalam upaya melindungi WNI di luar negeri. Ketika seorang pekerja migran mengalami masalah hukum atau sosial, negara hadir melalui kedutaan untuk membantu. Proses pendampingan ini menjadi bukti bahwa kedaulatan bukan hanya konsep politik, tetapi juga wujud kasih negara terhadap rakyatnya. “Saya merasa tidak sendirian,” kata seorang pekerja migran yang dipulangkan setelah mengalami kekerasan. Di balik itu, ada kerja panjang dan diplomasi yang tenang semua demi keselamatan warganya. Baca juga: Pancasila Pelindung Kehangatan di Tengah Keberagaman Bangsa Sikap Tegas di Tengah Tekanan Global Dalam dunia yang saling terhubung, Indonesia sering dihadapkan pada tekanan negara besar. Namun kedaulatan ke luar mengajarkan bahwa bangsa ini berhak menentukan pilihannya sendiri. Dalam isu lingkungan, perdagangan, hingga pertahanan, Indonesia berusaha mengambil sikap yang seimbang mengutamakan kepentingan rakyat tanpa mengabaikan hubungan baik dengan negara lain. Keputusan-keputusan ini terkadang tidak populer, namun menjadi cermin bahwa kedaulatan berarti keberanian berdiri di kaki sendiri. Kerja Sama Internasional untuk Kesejahteraan Rakyat Meski berdaulat, Indonesia tidak berdiri sendirian. Kerja sama ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terus dijalin. Namun semuanya berada dalam satu prinsip: kemitraan harus membawa manfaat, bukan ketergantungan. Dari pertukaran pelajar hingga proyek pembangunan desa, kerja sama internasional menjadi cara kedaulatan ke luar mendatangkan peluang bagi masyarakat. Kedaulatan yang Menjaga Martabat Bangsa Pada akhirnya, kedaulatan ke luar adalah cermin dari seberapa hormat sebuah negara dipandang oleh dunia. Ia bukan semata urusan politik tingkat tinggi, tetapi juga cerita tentang rakyat yang merasa dilindungi, negara yang disegani, dan bangsa yang berjalan dengan kepalanya terangkat. Di era global yang penuh tantangan, kedaulatan ke luar mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya bagian dari dunia tetapi subjek yang berdaulat, berdiri sejajar, dan dihormati.(AAZ) Baca juga: Ketika Norma Menjadi Penjaga Harmoni di Tengah Masyarakat

Pancasila Pelindung Kehangatan di Tengah Keberagaman Bangsa

Wamena - Di negeri dengan lebih dari 17 ribu pulau, ratusan bahasa daerah, dan beragam keyakinan, perbedaan adalah bagian paling nyata dari kehidupan sehari-hari. Namun di tengah semua keragaman itu, ada satu nilai yang menjaga semuanya tetap dalam satu wadah: Pancasila. Pancasila bukan hanya teks dalam pembukaan UUD 1945 atau hafalan upacara. Ia menjadi napas yang mengikat bangsa ini: menuntun bagaimana masyarakat saling menghormati, saling memahami, dan tetap sejiwa meski berbeda cara hidup. Menjaga Kehidupan Beragama dengan Rasa Hormat Di sebuah desa di Sulawesi, warga Muslim membantu menyiapkan perayaan Natal untuk tetangga Kristiani mulai dari memasang lampu hingga membersihkan halaman gereja. Sebaliknya, saat bulan Ramadan tiba, para pemuda gereja ikut menjaga area masjid agar tarawih berjalan lancar. Tidak ada aturan formal yang mewajibkan itu. Tapi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa membuat mereka saling menjaga kebebasan beribadah sebagai wujud keimanan yang damai. Kemanusiaan yang Terasa dalam Tindakan Dalam kehidupan sehari-hari, sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab terlihat ketika masyarakat bergotong royong membantu sesama tanpa melihat suku atau agama. Di kota besar seperti Jakarta, relawan dari berbagai latar belakang membantu korban banjir tanpa menanyakan identitas apa pun. “Saat orang susah, kita manusia dulu sebelum apa pun,” kata salah satu relawan. Kalimat itu mencerminkan bagaimana Pancasila hidup dalam tindakan sederhana. Baca juga: Ketika Norma Menjadi Penjaga Harmoni di Tengah Masyarakat Persatuan Indonesia dalam Kisah Warga Desa Di sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara Timur, anak-anak dari suku yang berbeda belajar di sekolah yang sama, bermain di lapangan yang sama, dan tumbuh dengan bahasa persatuan: bahasa Indonesia. Mereka datang dari keluarga yang berbeda adat, namun tetap saling menjaga. “Itu anak kita semua,” ujar kepala desa saat berbicara tentang masa depan mereka. Persatuan Indonesia hadir bukan dalam pidato saja, tapi dalam cara masyarakat memandang satu sama lain sebagai saudara. Musyawarah dan Kebijaksanaan yang Menyatukan Sila keempat sering terlihat dalam musyawarah desa. Ketika ada masalah tanah, warga berkumpul, mendengar, menyampaikan pendapat, dan mencari keputusan bersama. Tidak ada suara yang lebih penting dari yang lain. Musyawarah tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi menguatkan rasa saling percaya. Keadilan Sosial yang Menghadirkan Harapan Keadilan sosial bukan hanya sebuah tujuan besar negara, tetapi juga harapan yang tumbuh dari tindakan kecil: pembagian air bersih bersama, donasi untuk warga kurang mampu, hingga program gotong royong di kampung. Pancasila menjadi pengingat bahwa kesejahteraan harus dirasakan semua orang. Pancasila sebagai Rumah bagi Semua Pada akhirnya, Pancasila menjadi seperti rumah besar yang menaungi seluruh warga Indonesia. Rumah tempat perbedaan tidak disingkirkan, tetapi dipeluk. Tempat setiap warga merasa aman menjadi dirinya sendiri, sekaligus merasa terikat dalam satu keluarga besar bernama bangsa Indonesia. Di era modern yang penuh tantangan identitas dan perpecahan, Pancasila terus menjadi cahaya yang mengingatkan kita: keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan yang membuat bangsa ini istimewa.(AAZ) Baca juga: Mediasi Jembatan Damai di Tengah Persoalan

Ketika Norma Menjadi Penjaga Harmoni di Tengah Masyarakat

Wamena - Norma adalah aturan tidak tertulis yang hidup di tengah masyarakat. Ia tidak selalu tercantum dalam buku hukum, namun mengatur bagaimana manusia bersikap, bertutur, dan berperilaku. Norma membuat kehidupan lebih teratur tanpa harus selalu diawasi. Ia terbentuk dari nilai, kebiasaan, dan kesepakatan bersama. Di sebuah kampung kecil, warga terbiasa saling menyapa ketika bertemu di jalan. Tidak ada papan pengumuman yang mewajibkan itu namun norma kesopanan membuat sapaan sederhana menjadi perekat hubungan sosial. Norma sebagai Cermin Nilai Kemanusiaan Norma tidak hanya mengatur tindakan, tetapi juga menunjukkan nilai yang dihargai masyarakat. Norma kesopanan, kesusilaan, agama, dan hukum menjadi empat pilar besar, tetapi bentuknya sangat beragam dalam kehidupan nyata. Di rumah, anak diajarkan untuk menghormati orang tua. Di jalan, pengendara diajarkan memberi ruang bagi pejalan kaki. Di tempat umum, orang diajarkan berbicara dengan nada sopan. Semua itu menjadi bagian dari norma yang membuat manusia lebih nyaman hidup berdampingan. Ketika Norma Menguji Kepekaan Sosial Dalam sebuah kejadian di pasar tradisional, seorang remaja membantu seorang nenek yang kesulitan membawa barang. Tidak ada aturan resmi, tetapi norma tolong-menolong mendorongnya untuk bertindak. “Rasanya tidak enak kalau tidak bantu,” ujarnya. Norma bekerja seperti suara kecil di dalam hati yang mengingatkan apa yang pantas dilakukan. Baca juga: Mediasi Jembatan Damai di Tengah Persoalan Norma yang Berubah Seiring Waktu Seperti manusia, norma juga bisa berubah. Dulu, anak-anak dianggap tidak boleh terlalu banyak menyampaikan pendapat. Kini, masyarakat mulai menerima bahwa suara anak penting dalam keluarga dan sekolah. Perubahan teknologi, budaya, bahkan media sosial turut membentuk norma baru dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Namun perubahan itu tetap harus dijaga agar tidak menghilangkan nilai dasar: menghormati orang lain dan menjaga kebaikan dalam hubungan sosial. Norma sebagai Penjaga Keharmonisan Pada akhirnya, norma adalah fondasi sosial yang membuat masyarakat tetap harmonis. Meski tidak selalu terlihat, ia hadir dalam sikap kecil setiap hari dari senyuman, antrian yang tertib, hingga saling menghargai perbedaan. Di tengah dunia yang serba cepat dan individualistis, norma menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang bagaimana kita menjaga ruang bersama agar tetap nyaman untuk semua.(AAZ) Baca juga: Moral di Tengah Hidup yang Serba Cepat

Mediasi Jembatan Damai di Tengah Persoalan

Wamena - Di tengah kehidupan yang kadang penuh gesekan, mediasi hadir sebagai jalan tengah yang sederhana namun berarti. Ia bukan tentang siapa menang dan siapa kalah, melainkan bagaimana dua pihak yang berselisih bisa kembali saling memahami. Mediasi adalah proses ketika seseorang biasanya disebut mediator membantu dua pihak berdialog dengan kepala dingin, hati terbuka, dan tujuan mencari solusi terbaik bagi semua. Ketika konflik kecil mengajarkan arti kebersamaan Di sebuah kampung di pinggiran kota, dua tetangga berselisih soal batas tanah yang hanya selebar gang kecil. Suasana sempat memanas, namun ketua RT mengajak keduanya duduk bersama. Dengan secangkir teh dan suasana yang lebih tenang, mereka mulai saling bercerita. Dari saling curiga, perlahan berubah menjadi saling memahami. Di akhir pertemuan, keduanya sepakat memperbaiki batas tanah bersama tanpa memperpanjang masalah. “Saya pikir dia sengaja, ternyata hanya salah paham,” ungkap salah satu warga. Inilah esensi mediasi: mempertemukan hati sebelum mempertemukan argumentasi. Mediasi di Sekolah Belajar Menyelesaikan Masalah Sejak Dini Di sekolah dasar, guru BK sering menjadi mediator kecil bagi murid-murid yang berebut bangku atau berselisih paham. Dengan bahasa sederhana, mereka mengajak anak-anak saling mendengar dan memahami perasaan teman. “Kadang mereka hanya butuh tempat aman untuk bicara,” kata Bu Dinda, seorang guru. Lewat mediasi sederhana itu, anak-anak belajar bahwa konflik bukan akhir segalanya, dan menyelesaikan masalah bisa dilakukan tanpa teriak, tanpa marah, apalagi tanpa kekerasan. Baca juga: Moral di Tengah Hidup yang Serba Cepat Menghadirkan Ruang Tenang dalam Perselisihan Besar Mediasi juga bekerja pada situasi yang lebih besar seperti sengketa keluarga, masalah warisan, konflik bisnis, hingga persoalan sosial di masyarakat. Hadirnya mediator membuat percakapan lebih terarah, suasana lebih netral, dan solusi lebih mudah ditemukan. “Kadang orang ingin didengar, bukan dihakimi,” ujar seorang mediator profesional. Dengan mediasi, keputusan tidak dipaksakan. Semua pihak ikut membangun solusi bersama, sehingga hasilnya lebih diterima dan lebih damai. Mediasi Mengembalikan Nilai Kemanusiaan Di balik proses formal dan teknik yang digunakan, mediasi memiliki inti yang sangat humanis keberanian untuk bicara, kerendahan hati untuk mendengar, dan niat baik untuk mencari jalan keluar. Mediasi mengingatkan bahwa manusia bisa saling mendekat ketika konflik justru mendorong untuk saling menjauh. Di era yang serba cepat ini, ketika perbedaan mudah berubah menjadi pertengkaran, mediasi mengajarkan bahwa damai bukan hanya kata melainkan pilihan yang bisa kita ambil setiap hari.(AAZ) Baca juga: Luka di Tubuh Bumi Akibat Kerusakan Hutan yang Mulai Terasa di Kehidupan Kita

Moral di Tengah Hidup yang Serba Cepat

Wamena - Di sebuah kota kecil yang terus bertumbuh, moral tidak lagi sekadar istilah dalam buku pelajaran. Ia menjadi kompas batin yang sering dicari, kadang dilupakan, namun selalu dibutuhkan. Di pasar tradisional, seorang pedagang sayur bernama Ibu Rani mengembalikan dompet milik seorang lansia tanpa ragu. “Uang bisa dicari, tapi kejujuran itu bekal hidup,” katanya ringan. Pendidikan Moral di Era Serba Digital Di sekolah, para guru menghadapi tantangan baru. Anak-anak tumbuh bersama gawai dan informasi instan, membuat nilai moral perlu diajarkan dengan cara berbeda. “Moral tidak cukup dijelaskan, harus diteladankan,” ucap Guru Raga. Anak-anak, katanya, belajar lewat contoh nyata, bukan sekadar teori. Gotong Royong Wajah Moralitas yang Nyata Dalam lingkungan padat penduduk, gotong royong menunjukkan bagaimana moral hidup dalam tindakan. Ketika rumah Pak Burhan tergenang banjir, warga datang membantu tanpa diminta. Tidak ada kamera, tidak ada unggahan media sosial hanya kepedulian murni antar manusia. Baca juga: Mengenal Introvert Ketika Tenang Menjadi Sumber Kekuatan Moral yang Diuji Tekanan Hidup Di kantor pelayanan publik, seorang pegawai muda menolak amplop “terima kasih” dari warga sebuah pilihan yang tidak selalu mudah. “Moral itu kadang membuat kita berjalan lebih berat, tapi tetap benar,” ujarnya. Keputusan kecil itu menunjukkan bahwa integritas sering diuji oleh situasi sehari-hari. Moral sebagai Jangkar Kemanusiaan Pada akhirnya, moral bukan hanya topik bagi para filsuf. Ia hadir dalam tindakan kecil, keputusan diam-diam, dan keberanian menjaga integritas meski tidak ada yang melihat. Dalam dunia yang bergerak cepat, moral menjadi jangkar yang menjaga kemanusiaan tetap utuh. Mungkin, dalam kerumitan hidup hari ini, moral masih bercahaya melalui niat baik yang dilakukan tanpa meminta balasan.(AAZ) Baca juga: Menjaga Hutan, Menyimpan Warisan Berharga untuk Anak Cucu