Wamena - Pegunungan Arfak membentang di Papua Barat sebagai kawasan hijau yang masih setia pada keheningan. Kabut tipis kerap turun perlahan, menyelimuti hutan hujan tropis dan perkampungan kecil di lereng-lereng gunung. Bagi banyak orang, Arfak dikenal sebagai “negeri di atas awan”. Namun bagi masyarakat adat yang tinggal di sana, kawasan ini adalah rumah, sumber kehidupan, dan ruang spiritual yang dijaga turun-temurun. Suasana Pegunungan Arfak Keindahan Pegunungan Arfak tidak hadir secara mencolok. Ia muncul pelan-pelan, melalui udara sejuk yang menusuk kulit, suara burung endemik yang saling bersahutan, dan pepohonan tinggi yang menjulang rapat. Kawasan ini merupakan salah satu surga keanekaragaman hayati di Papua. Berbagai jenis burung cenderawasih, mamalia hutan, dan tumbuhan langka hidup di sini. Alam Arfak bekerja dalam keseimbangan yang halus, nyaris tanpa campur tangan manusia. Kehidupan Masyarakat Arfak Masyarakat Arfak memandang hutan sebagai ibu yang memberi makan dan perlindungan. Mereka mengambil hasil alam secukupnya, tanpa merusak tatanan yang ada. Ladang dikelola secara tradisional, berpindah mengikuti kesuburan tanah. Cara ini memungkinkan alam pulih kembali. Nilai ini diwariskan sejak kecil, menjadi bagian dari pendidikan kehidupan yang tidak tertulis, tetapi sangat kuat. Kehidupan di Pegunungan Arfak berjalan lambat, jauh dari ritme kota. Tidak ada tergesa-gesa, tidak ada ambisi berlebihan. Warga memulai hari dengan bekerja di kebun, berburu secara terbatas, atau merawat keluarga. Kebersamaan menjadi kunci. Alam mengajarkan bahwa bertahan hidup bukan soal menguasai, tetapi berbagi dan menjaga. Destinasi Wisata Alam dan Pengamatan Burung Dalam beberapa tahun terakhir, Arfak mulai dilirik sebagai destinasi wisata alam dan pengamatan burung. Wisatawan datang untuk menikmati hutan dan mencari spesies langka. Kehadiran ini membawa harapan ekonomi baru bagi masyarakat. Namun, warga juga menyadari risiko yang mengintai. Karena itu, pendekatan wisata dilakukan dengan sangat hati-hati. Pengunjung diajak mengikuti aturan adat, menghormati hutan, dan tidak meninggalkan jejak kerusakan. Pegunungan Arfak tidak menawarkan kemewahan. Ia menawarkan kejujuran alam. Di sini, manusia diingatkan akan posisi sejatinya, sebagai bagian dari ekosistem, bukan penguasa. Setiap kabut yang turun seolah membawa pesan tentang kesetiaan pada alam yang telah memberi kehidupan sejak generasi pertama. Keindahan Arfak bukan hanya soal pemandangan, tetapi tentang nilai hidup yang semakin jarang ditemukan. Di tengah dunia yang bergerak cepat, Pegunungan Arfak berdiri tenang, menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Ia menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berarti merusak, dan kesejahteraan bisa tumbuh dari keharmonisan. (ANY) Baca juga: Keindahan Alam Danau Sentani Papua