Berita Terkini

ASN Berintegritas: Pengertian, Makna dan Langkah Pemerintah Membangun ASN Berintegritas

Wamena - Aparatur Sipil Negara (ASN) mempunyai peran dan tanggung jawab dalam melayani masyarakat. Salah satu nya dengan memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. Keberhasilan ASN tidak hanya di ukur dari kemampuan semata, tetapi juga dari integritas yang dimiliki ASN. Pengertian Integritas Integritas adalah sikap konsisten, berpegang teguh pada pendirian, nilai-nilai etika, dll. Integritas itu menjunjung tinggi prinsip jujur, nilai-nilai etika, moral dalam setiap tindakan. Seseorang yang berintegritas akan bertindak kepada hati nurani, keyakinan tanpa tergoda oleh kepentingan pribadi. Seseorang berintegritas biasanya akan bertindak sesuai dengan apa yang diyakini dan dikatakan. Kesetiaan terhadap nilai-nilai dasar seperti tanggung jawab, kejujuran, komitmen untuk menolak segala bentuk penyimpangan merupakan salah satu dari integritas dari ASN. Makna Integritas bagi ASN ASN yang memiliki rasa disiplin, moral kuat dan memiliki tanggung jawab yang tinggi merupakan contoh yang baik bagi masyarakat. Keseimbangan antara ucapan, pikiran, tindakan dalam bekerja menjalankan tugas dan tanggung jawab merupakan salah satu integritas bagi ASN. ASN berintegritas bekerja sesuai pertauran, menempatan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi, dan tidak menyalahkan wewenang. ASN berintegritas harus menjunjung tinggi nilai “BerAKHLAK”, singkatan dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif. Kiranya dengan ASN berintegritas dan memiliki nilai “BerAKHLAK”, menjadikan ASN berintegritas semakin terdepan. Pentingnya Integritas dalam Pelayanan Publik Integritas menjadi poin yang utama untuk memberikan pelayanan yang terbaik yang berkualitas untuk masyarakat tanpa adanya diskriminasi. Tanpa adanya ASN yang berintegritas, program pemerintah pun bisa gagal atau terhambat. Integritas yang tinggi, bisa meminimalisir segala sesuatu yang menyimpang, misalnya praktik korupsi, gratifikasi, penyalahgunaan jabatan, nepotisme, kolusi, dll. Dengan adanya ASN berintegritas, akan membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Langkah Pemerintah Membangun ASN Berintegritas Upaya untuk memperkuat nilai integritas ASN dengan memberikan pembinaan karakter/ pelatihan, menerapkan zona integritas dan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), adanya pengawasan internal dan eksternal oleh Inspektorat secara berkala.(ANY) Baca juga: Nepotisme: Ancaman Nyata bagi Integritas dan Keadilan dalam Pemerintahan

Sumpah Pemuda: Sejarah, Isi, Tujuan dan Refleksi

Wamena - 28 Oktober menjadi salah satu perayaan bersejarah yang tercatat dalam perjalanan Bangsa Indonesia. Momen tersebut diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda, hari yang dirayakan sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat persatuan dan kesatuan pada pemuda Indonesia yang telah berperan melawan penjajah guna mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Sumpah pemuda juga menjadi salah satu tonggak bagi bangsa untuk mengenal semangat nasionalisme dan menghargai perbedaan yang ada.  Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Bermula dari diadakan sumpah pemuda I yang diselenggarakan terlebih dahulu di Jakarta pada 30 April 1926 dan berakhir di tanggal 2 mei 1926. Kongres tersebut turut dihadiri sejumlah perhimpunan pemuda maupun pemudi. Bukan tanpa alasan, fokus kongres pertama fokus menyoroti tentang pembentukan sebuah badan sentral yang diharapkan dapat menjembatani jalan dalam pembinaan perkumpulan pemuda sehingga dapat terhubung satu sama lain.  Kongres Pemuda I belum menghasilkan keputusan yang memuaskan, sehingga berlanjut kembali diselenggarakannya Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda tepatnya 28 Oktober 1928. Melalui momentum ini terdapat setidaknya tiga kali persidangan yang membahas tentang pendidikan, pergerakan kepanduan, hingga persatuan dan kebangsaan Indonesia.  Isi Sumpah Pemuda Para pemuda merumuskan ikrar yang dikenal dengan “Sumpah Pemuda”, dan bersamaan dengan momen tersebut juga diperdengarkan lagu Indonesia Raya oleh W. R. Supratman. Adapun isi Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tujuan Sumpah Pemuda Melalui peristiwa tersebut, tercipta sebuah sejarah pergerakan bagi para pemuda Indonesia yang ikut andil dalam memperjuangkan persatuan dan kesatuan bangsa. Peristiwa yang awalnya bersifat khas kedaerahan mampu berubah menjadi sarana bagi seluruh organisasi kepemudaan menjadi berjiwa nasionalis.  Tujuan Sumpah Pemuda mampu memberikan angin segar baru bagi Bangsa Indonesia khususnya dalam menanamkan semangat kebangsaan dalam diri untuk terus berjuang meraih kemerdekaan. Sumpah Pemuda juga bertujuan dalam membuktikan bahwa perbedaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia dapat disatukan. Hal ini mengacu pada semboyan Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.  Refleksi untuk Generasi KPU Muda Peringatan bersejarah ini juga menjadi ajang refleksi untuk mengukur kontribusi pemuda dalam kemajuan negara. Perlu disadari, kini pemuda diperhadapkan dengan tantangan globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial yang sangat cepat. Konteks ini menekankan peran pemuda dalam pembangunan sosial, ekonomi, budaya namun tetap teguh menjaga identitas nasional. KPU Papua Pegunungan di Juni 2024 baru saja menerima CPNS yang mayoritas berusia muda yang penuh dengan semangat dan gejolak yang membara. Memberikan edukasi dan memupuk semangat persatuan dan cinta terhadap tanah air, terus disuarakan dalam keseharian sejak CPNS bergabung. Hal ini karena, jajaran KPU menyadari bahwa sebagai generasi penerus, seluruh pegawai memiliki tanggung jawab untuk menghargai dan mengamalkan nilai-nilai Sumpah Pemuda, juga sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan para pemuda dan pahlawan di masa lalu. Harapannya, percepatan pembangunan sosial, ekonomi, budaya terus mengalami peningkatan yang positif namun tetap teguh menjaga identitas nasional. Peran pemuda dioptimalkan di usia produktif hingga bermanfaat bukan hanya kepada lembaga tetapi juga terhadap negara. (FPH)  Baca juga: Ide Hebat Butuh Waktu: Menyalakan Kembali Semangat Sumpah Pemuda di Tengah Budaya Instan

Nasionalisme di Era Modern

Wamena - Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat dan pesat, semangat nasionalisme kita kepada bangsa Indonesia perlu terus ditingkatkan dan selalu dijaga dan diperkuat oleh setiap individu. Nasionalisme bukan hanya sekadar kata-kata mutiara dan slogan yang tertempel di dinding, melainkan menjadi sikap hidup yang mencerminkan cinta kepada tanah air, dan menghargai semangat dan perjuangan para pahlawan, serta berkomitmen untuk menjaga persatuan bangsa ditengah arus Globalisasi. Nasionalisme di Tengah Arus Globalisasi Dalam kehidupan modern saat ini, nilai-nilai nasionalisme kerap kali terkikis oleh gaya hidup global yang serba cepat dan terbuka terhadap budaya luar dari luar. Banyak dari generasi muda yang lebih cenderung mengenal budaya asing dibandingkan dengan kearifan lokal bangsa sendiri. Kondisi seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat untuk memupuk kembali dan menyalakan api nasionalisme di hati setiap warga negara yang mungkin hampir padam. Generasi Muda Penjaga Semangat Bangsa Generasi muda saat diharapkan menjadi ujung tombak serta dapat menunjukkan sikap nasionalisme melalui tindakan yang nyata, seperti mencintai produk dalam negeri serta memakai produk-produk yang di hasilkan dari dalam negeri, berperilaku jujur baik dalam lingkungan kerja maupun dalam lingkungan masyarakat, menghormati setiap perbedaan, serta aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Baca juga: Golongan Putih dalam Pemilu di Indonesia Peran Pendidikan dan Media Sosial Dunia Pendidikan menjadi pilar utama dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Sekolah maupun Kampus diharapkan tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga menanamkan nilai moral, etika, dan kebangsaan. Selain itu, media sosial juga dapat menjadi sarana yang efektif dalam menyebarkan pesan-pesan positif tentang nasionalisme. Nasionalisme dalam Kehidupan Sehari-hari Bentuk nasionalisme masa kini tidak lagi identik dengan mengangkat senjata, melainkan melalui kontribusi terhadap pembangunan bangsa. Masyarakat dapat menunjukkan rasa cinta tanah air dengan menjaga lingkungan sekitar, membayar pajak tepat waktu, serta menghormati simbol-simbol negara, dan menjaga kerukunan antar warga dan umat beragama. Menumbuhkan Harapan untuk Bangsa yang Kuat Menyalakan kembali semangat nasionalisme bukanlah tugas segelintir orang maupun sekelompok orang, melainkan tanggung jawab kita bersama. Di era modern yang penuh perubahan yang cepat, nasionalisme harus terus tumbuh dan hidup di setiap hati warga negara Indonesia sebagai kompas moral untuk menghadapi masa depan yang lebih maju dan berdaulat. (AAZ) Baca juga: Politik Identitas, Ketika Perbedaan Jadi Alat Kepentingan

Nepotisme: Ancaman Nyata bagi Integritas dan Keadilan dalam Pemerintahan

Wamena – Nepotisme menjadi salah satu praktik yang kerap menciderai sebuah birokrasi serta keadilan sosial di dalam sebuah Negara. Nepotisme kerap disamarkan dengan alih–alih “kepercayaan” atau sering disebut “sebuah kedekatan personal”. Nepotisme ini biasanya selalu memicukan ketimpangan serta menurunkan kualitas dalam hal pelayanan Publik. Di Indonesia, isu ini selalu dan terus menjadi sorotan, terlebih dalam konteks sebuah rekrutmen Jabatan strategis publik, berpolitik, hingga sector bisnis milik negara. Nepotismie dalam pengertiannya Nepotisme adalah bentuk dari suatu tindakan yang melawan hukum dan sering disandingkan dengan Korupsi dan Kolusi. Kebanyakan dari kita lebih akrab mengenalnya dengan istilah korupsi karena banyak kasus atau hal yang terjadi. Dalam Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi, Nepotisme dijelaskan bahwa Nepotisme adalah setiap perbuatan penyelenggara negara secara melawan hukum yang memberikan keuntungan dan kepentingan bagi keluarganya dan/atau kroninya diatas kepenting Rakyat, Bangsa dan Negara. Prinsip dan Dampak Nepotisme terhadap Pemerintahan 1.   Merusak Prinsip Meritokrasi 2.   Menurunkan Kinerja dan Efektivitas Lembaga 3.   Menggerus Kepercayaan Publik 4.   Memicu Korupsi dan Nepotisme Tantangan untuk memberantas Nepotisme Walaupun segala regulasi yang telah diterbitkan, perbuatan nepotisme ini tetap menjadi masalah yang penting yang sangat menghambat kemajuan bangsa. Untuk menciptakan Pemerintahan yang baik (Good Governance), diperlukan sebuah komitmen dari berbagai elemen yang kuat dari pihak Pemerintah, Masyarakat dan Lembaga pengawas untuk membuat dan menciptakan sebuah sistem yang adil, transparan, berbasi meritokrasi. Tantangan lainnya adalah lemahnya sanksi dan kurangnya keberanian  dari pelapor untuk mengungkapan sebuah Tindakan nepotisme karena khawatir akan sebuah tekanan dan balasan. (REZ)  Baca juga: Good Governance: Kunci untuk Menerapkan Pemerintahan yang Bersih, Transparan dan Akuntabel

Ide Hebat Butuh Waktu: Menyalakan Kembali Semangat Sumpah Pemuda di Tengah Budaya Instan

Wamena - Generasi muda hari ini hidup di zaman di mana semua hal bisa dicapai dengan satu sentuhan layar. Informasi datang tanpa batas, dan keputusan diambil secepat jari menyentuh gadget.​​​ Namun dibalik itu semua, kita mulai kehilangan sesuatu yang pernah menjadi nafas perjuangan generasi muda pada tahun 1928: kemampuan berpikir sabar dan berpegang teguh pada ide-idenya.​​​ Sumpah Pemuda tidak datang dari percakapan singkat di ruang rapat mewah. Ia lahir dari pertemuan lintas suku, dari perbedaan yang dirangkul, dan dari pikiran yang matang, pikiran yang tidak terburu-buru menilai, namun sabar memahami. Mereka tahu bahwa persatuan bukanlah sebuah keputusan yang cepat, melainkan hasil dari proses pemikiran yang panjang dan mendalam. Budaya Instan, Cermin Zaman yang Menantang Hari ini, tantangan kita bukan lagi tentang melawan penjajahan fisik. Musuh kita lebih halus: budaya instan yang mengikis daya pikir. Kita terbiasa ingin hasil tanpa proses, ingin sukses tanpa belajar, ingin perubahan tanpa pengorbanan. Padahal, sejarah membuktikan, setiap ide besar selalu lahir dari proses panjang. Sama seperti api, gagasan harus disulut perlahan, dijaga agar tidak padam, hingga akhirnya menyala terang. Jika para pemuda 1928 terburu-buru dan menyerah pada perbedaan, mungkin kita tak akan mengenal Indonesia seperti hari ini. Dan kini, kita pun punya tanggung jawab yang sama: melawan instan dengan ketekunan, melawan cepat dengan kedalaman. Pemuda: Penjaga Api, Bukan Penonton Zaman Pemuda bukan hanya penonton sejarah, mereka adalah penulisnya. Generasi hari ini tidak kalah hebat, tapi sering kali terjebak dalam kecepatan yang ditipu. Kita sibuk mengikuti tren, tetapi kita lupa menentukan arah.​ Kita ingin cepat dikenal, tetapi kita lupa berpikir mendalam. Sumpah Pemuda memberikan pelajaran sederhana tetapi selamanya: “Persatuan dan kemajuan suatu bangsa tidak akan pernah lahir dari pikiran yang tergesa-gesa.” Jadi, tugas kita sekarang bukan sekadar mengikuti arus, tetapi menyalakan kembali api pemikiran kritis dan mendalam. ​Sekarang bukan hanya sekadar mengikuti arus, tetapi menyalakan kembali api pemikiran kritis dan mendalam.​​​​ Berani bertanya, berani berpikir, dan berani membangun ide meski butuh waktu lama. Dari Ide ke Aksi: Wujudkan Sumpah Pemuda Baru Generasi ini bisa membuat dengan versi mereka sendiri ​"Sumpah Pemuda" versi sendiri. Bukan hanya mengulang sejarah, tapi membawa semangatnya​ kembali ke kehidupan. Sumpah untuk berpikir sebelum berbicara. Sumpah untuk bertindak dengan makna, bukan dengan kecepatan. Sumpah untuk menjaga persatuan di tengah derasnya perbedaan digital. Setiap ide yang kita tanam hari ini adalah benih masa depan Indonesia. Mungkin kecil atau belum terlihat, tetapi setiap benih ide membutuhkan waktu untuk tumbuh menjadi pohon perubahan. Harapan: Api Itu Masih Menyala Sumpah Pemuda bukan sekedar diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Oktober. Pikiran manusia adalah senjata paling kuat dalam membangun bangsa. Dan di tengah budaya instan yang melanda dunia, pesan itu semakin relevan: "Ide-ide hebat membutuhkan waktu." Pemikiran mendalam membutuhkan kesabaran. Dan perubahan sejati membutuhkan keberanian untuk berpikir perlahan, tapi pasti. Selama masih ada​ anak muda yang berpikir bertindak, dan selama masih ada generasi yang berani menjalani proses di dunia yang bergerak begitu cepat ini, api Sumpah Pemuda tidak akan pernah padam.​​​​ (HY) Baca Juga: Caption Sumpah Pemuda 2025: Kata-Kata Singkat Tapi Menggetarkan Semangat

Lagu Jingle Pemilu 2024: Memilih untuk Indonesia

Wamena – Band Cokelat adalah salah satu band yang menciptakan lagu jingle pemilu 2024 yang berjudul “Memilih untuk Indonesia”. Namara Surtikanti yang biasa dipanggil Kikan telah menciptakan jingle pemilu 2024 ini dengan penuh semangat. Band cokelat mempunyai kesempatan untuk membawakan jingle pemilu ini pada Pemilu 2024. Lagu jingle pemilu bukan hanya sekedar lagu kampanye, melainkan lagu ini menyampaikan pesan moral betapa berharganya suara kita dalam membangun Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik di masa mendatang. Peluncuran Jingle Pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pemilu 2024 merupakan simbol semangat partisipasi dan persatuan masyarakat dalam proses demokrasi. Jingle pemilu ini diluncurkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun 2024. Musik dari jingle pemilu ini penuh semangat dan menarik orang lain untuk mendengarkan jingle pemilu ini. Sumber: Youtube KPU RI. Jingle pemilu serentak tahun 2024. Berjudul “Memilih Untuk Indonesia", ciptaan Kikan Namara dan dibawakan oleh Band Cokelat Makna Lagu Jingle Pemilu “Memilih untuk Indonesia” Lirik lagu Jingle pemilu ini mempunyai makna positif yang dimana lagu jingle pemilu ini cocok untuk semua kalangan yang menyukai musik. Berikut penggalan lirik lagu jingle pemilu, memilih untuk Indonesia: Salurkan aspirasi bersama demi bangsa Teguh percaya suara kita sangat berharga Menentukan arah masa depan Indonesia Penggalan lirik lagu diatas menyampaikan pesan bahwa kita harus menggunakan hak pilih dengan baik. Lewat lagu jingle pemilu ini mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai bangsa dan negara Indonesia dengan tidak golongan putih (golput). Momen kebersamaan pada saat pemilu merupakan arah untuk menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia kedepannya. Memilih untuk Indonesia adalah judul yang menggambarkan tentang semangat nasionalisme rakyat Indonesia terhadap makna suara memilih. Lewat lagu jingle pemilu ini Rakyat Indonesia bisa lebih dekat, bersatu dan demokratis. (ANY) Baca juga: Jingle Pilkada Papua Pegunungan 2024 Meriahkan Sosialisasi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur