Berita Terkini

Lagu Glory Glory Man United jadi Sumber Semangat Baru dalam Bekerja: Irama Sepak Bola, Gairah Kerja Demokrasi

Wamena – Glory Glory Man United adalah empat kata yang tidak dapat terpisahkan dari sebuah Klub Besar yang mempunyai 20 Gelar Juara Liga Inggris yaitu Manchester United. Kata Glory bersumber dari sebuah lagu yang diciptakan oleh penulis lagu asal Amerika Serikat yang bernama Julia Ward Howe yang ia ciptakan pada tahun 1861 dengan judul lagunya yaitu Battle Hymn Of The Republic. Lagu tersebut kemudian menjadi terkenal di kalangan dunia sepak bola dan Manchester United sendiri terlebih pendukung mereka menggunakan lagu Glory Glory ini pada tahun 1983 saat pertandingan final Piala FA. Sejak saat itu lagu ini juga menjadi anthem untuk lagu sambil bekerja yang menarik untuk diputar karena semangatnya dari lirik lagu tersebut, lagu ini biasanya akan terasa asik diputar di pagi hari sebelum jam kantor dimulai. Lagu ini diputar untuk membangun suasana yang positif dan menimbulkan semangat dalam bekerja. Semangat Olahraga yang menular ke dunia Birokrasi Suasana kerja akan lebih terasa positif dan berbeda, nada riang dan penuh energi yang dituangkan dari lagu “Glory Glory Man United” memberikan semangat baru bagi para pegawai. Dari sekedar hiburan, kini lagu tersebut menjadi pemantik semangat untuk terus bekerja lebih solid, professional dan berintegritas. Makna lagu dalam Konteks semangat bekerja Lagu Glory Glory Man United bukan hanya sekedar lagu suporter tapi menjadi bagian dari simbol ketekunan, tanggung jawab, semangat, dan kebanggan terhadap tim, sehingga nilai – nilai itulah yang menjadi dan dianggap sama dengan semangat Etos Kerja KPU yang berjuang demi kelancaran Pesta Demokrasi Bangsa. KPU dan Musik: sebuah tradisi positif yang perlu dijaga Fenomena penggunaan musik sebagai pemicu motivasi dalam lingkungan kerja bukan hal yang baru, kreativitas dalam memilih lagu menunjukan cara yang unik untuk menjaga mood yang positif dan kebersamaan dalam tim kerja. Dari lagu ini mempunyai Bahasa Universal yaitu semangat, kebersamaan dan kemenangan. (REZ) Baca juga: Lagu Jingle Pemilu 2024: Memilih untuk Indonesia

Tahukah Kamu? Tradisi Hari Minggu yang Berbeda di Papua Pegunungan: Tentang Ibadah, Kedamaian, dan Kebersamaan

Wamena - Di banyak daerah di Indonesia, hari minggu identik dengan waktu beristirahat atau berkumpul bersama keluarga/kerabat dekat. Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di wilayah Papua Pegunungan, dan hampir berlaku di seluruh Papua. Secara lebih dalam, bagi masyarakat di sini, hari minggu adalah hari penuh nilai spiritual, sosial, dan budaya yang menggambarkan kedamaian khas Tanah Papua. Suasana Tenang dan Penuh Iman di Hari Minggu Sejak pagi di hari minggu, arus lalu lintas dan aktivitas warga di wilayah pegunungan lebih sepi dari biasanya. Tidak banyak aktivitas jual beli, suara kendaraan, atau kegiatan kantor. Seluruh warga berfokus untuk beribadah di gereja, mengenakan pakaian terbaik sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta. Ibadah dilakukan di gereja-gereja dan menjadi sarana memperkuat iman sekaligus mempererat hubungan antarumat. Hari Minggu adalah wujud penghormatan terhadap Tuhan dan sesama. ASN KPU Nduga dan Refleksi Nilai Pengabdian Bagi para ASN, termasuk jajaran KPU Kabupaten Nduga, tradisi hari minggu ini menjadi pengingat pentingnya pengabdian tulus dan kedisiplinan dalam melayani masyarakat. Hari minggu bukan hanya waktu istirahat, tetapi juga momen refleksi memasuki minggu kerja yang baru dan memperkuat komitmen melayani dengan hati di daerah yang penuh tantangan. Menjaga Nilai-Nilai Kedamaian dan Persaudaraan Tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Papua Pegunungan masih menjunjung tinggi spiritualitas, kekeluargaan, dan saling menghargai. Nilai-nilai ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga harmoni serta semangat pengabdian ASN dan masyarakat di wilayah pegunungan yang indah ini. Kebersamaan Sebagai Sumber Inspirasi Tradisi hari minggu di Papua Pegunungan bukan hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menginspirasi ASN dan masyarakat luas untuk terus menanamkan nilai kedamaian, persaudaraan, dan kerja ikhlas demi kemajuan bersama. (FPH) Baca juga: Menjalin Harmoni dalam Keberagaman KPU Kabupaten Nduga

Apa itu Nasionalisme?

Wamena – Dasar penting dalam membangun kesatuan bangsa Indonesia adalah poin penting yang harus ada untuk mewujudkan sikap nasionalisme kita. Di tengah zaman yang semakin modern, kita tidak boleh melupakan apa itu arti nasionalisme, makna sikap nasionalisme dan penerapan sikap nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Makna Sikap Nasionalisme Makna sikap nasionalisme adalah menumbuhkan semangat persaudaraan, membentuk identitas bangsa berdasarkan nilai-nilai pancasila, mendorong partisipasi dan ajakan dalam setiap kegiatan positif, dll. Makna sikap nasionalisme harus dijunjung tinggi agar bangsa Indonesia sadar akan peran nya dalam membuat bangsa dan negara Indonesia semakin maju. Penerapan Sikap Nasionalisme dalam Kehidupan Sehari-hari Contoh penerapan nilai-nilai nasionalisme dalam berbagai aspek, antara lain: a.  Menghormati setiap perbedaan. Perbedaan bukan suatu hal penghalang untuk menerapkan sikap nasionalisme. Dengan adanya perbedaan, bangsa Indonesia bisa mempunyai sikap nasionalisme untuk menghargai setiap perbedaaan baik ras, agama, suku, budaya dll. b.  Menjaga fasilitas umum dan lingkungan. Hal tersebut merupakan tanggung jawab sebagai warga negara. Dengan menjaga fasilitas umum dan lingkungan akan terciptanya lingkungan yang aman, tertib dan sebagai warga negara juga dapat merasakan rasa bangga ketika menggunakan fasilitas umum yang masih terjaga baik serta dapat digunakan secara maksimal. c.   Menggunakan produk dalam negeri. Mari warga negara mendukung dengan cara memakai dan membeli produk lokal. Hal ini diharapkan dapat mendukung perekonomian nasional, membantu umkm, meminimalisir angka pengangguran, memperkenalkan produk-produk dalam negeri yang tak kalah saing dan berkualitas dengan produk luar negeri. d.  Berprestasi dan berperan aktif. Sebagai warga negara yang baik kiranya dapat berpartisipasi dalam kegiatan positif untuk mengangkat dan mengharumkan nama bangsa Indonesia. e.  Patuh terhadap hukum dan peratura. Sebagai warga negara yang baik harus mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku agar meminimalisir terjadinya tindak kejahatan atau hal-hal buruk lainnya. Tanamkan Nasionalisme Sejak Dini Lembaga dan pemerintah akan terus berusaha untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme  kepada generasi muda dimulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya dari aspek pendidikan, kegiatan ekstrakulikuler dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Harapannya dengan menanamkan sikap nasionalisme sejak dini, generasi penerus akan  berperan aktif untuk memajukan bangsa ini. Sikap nasionalisme akan mengalir di diri setiap orang jika bisa memulai nya dari diri sendiri sejak dini. (ANY) Baca juga: Langkah Tegas Menuju Profesionalisme: KPU Nduga Bangun Budaya Disiplin Baru

Jejak Sejarah Sumpah Pemuda yang Masih Bernafas dari Jalan Kramat 106

Wamena - Di tengah riuh kendaraan dan gedung-gedung tinggi Jakarta Pusat, berdiri sebuah bangunan tua di Jalan Kramat Raya No. 106. Dindingnya kokoh, catnya telah beberapa kali berganti, namun aroma sejarah yang tak pernah pudar. Tempat itu bukan sekadar rumah tua. Ia adalah saksi bisu yang bernafas atas lahirnya salah satu tonggak paling penting dalam sejarah bangsa: Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Ruang yang Menyatukan Perbedaan Bangunan di Jalan Kramat 106 awalnya merupakan rumah milik seorang keturunan Tionghoa bernama Sie Kong Liong. Pada masa pergerakan, rumah itu disewa oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPPI) dan diubah menjadi asrama pemuda bernama Indonesische Clubgebouw. Dari rumah sederhana inilah, semangat persatuan bangsa mulai tumbuh. Para pelajar dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Ambon, Bali, hingga Papua berkumpul, berdiskusi, dan menanamkan gagasan besar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa — Indonesia. Di sebuah bangunan tua di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta Pusat, tersimpan kisah yang jarang diungkap. Gedung itu menjadi saksi bisu lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Kini, orang mengenalnya sebagai Museum Sumpah Pemuda. Dindingnya mungkin diam, tetapi setiap bata di sana masih menyimpan gema semangat para pemuda yang menulis sejarah. Dolly Salim, Suara yang Menggetarkan Ruang Kongres Di balik nama-nama besar seperti Soegondo Djojopoespito, Mohammad Yamin, dan Wage Rudolf Supratman, ada sosok yang nyaris terlupakan — Dolly Salim, putri dari Haji Agus Salim. Ia memang bukan peserta kongres, tetapi memiliki peran yang sangat penting. Dolly adalah orang yang menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya di depan peserta kongres, yang diiringi alunan biola Wage Rudolf Supratman, pada saat lagu tersebut belum diizinkan oleh pemerintah kolonial. Tokoh Jembatan Persatuan Antar iman Satu lagi nama yang sering terlewat dari catatan sejarah adalah Amir Sjarifuddin Harahap, pemuda dari Sumatera Timur. Ia menjadi penghubung antar organisasi pemuda Kristen dan Katolik, memastikan semangat persatuan tidak terpecah karena perbedaan keyakinan. Gagasannya sederhana namun berani: Indonesia hanya bisa merdeka jika seluruh pemuda bersatu tanpa melihat latar belakang. Gedung Kramat 106: Tempat Sejarah Ditulis di Tengah Ancaman Gedung Kramat 106 tidak sekadar lokasi kongres. Ia adalah saksi dari keteguhan hati. Saat itu, setiap pertemuan diawasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Para pemuda tahu mereka bisa ditangkap kapan saja. Namun mereka tetap melanjutkan sidang, berdiskusi hingga larut malam, menulis sejarah di tengah ancaman. Dari ruang tamu kecil dan meja kayu sederhana, lahirlah tiga kalimat yang mengguncang masa depan bangsa — Tiga Ikrar Sumpah Pemuda.  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tiga ikrar ini menjadi fondasi lahirnya semangat persatuan nasional, jauh sebelum Indonesia merdeka. Para pahlawan menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang mempersatukan seluruh pemuda dari berbagai daerah di Nusantara. Warisan Abadi: Biola, Kursi, dan Semangat Kini, banyak dari saksi sejarah itu telah tiada, yang menjadi sosok pahlawan dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Namun benda-benda peninggalan para pahlawan masih tersimpan di museum. Ada kursi kayu tempat Soegondo berpidato, biola Wage Rudolf Supratman, dan foto-foto pemuda yang tersenyum dengan pakaian sederhana. Setiap benda itu bercerita tanpa kata, menjadi saksi bisu dari semangat yang tak padam yaitu semangat untuk menyatukan Indonesia. Pesan dari Masa Lalu untuk Generasi Kini Jalan Kramat 106 bukan hanya alamat di peta Jakarta. Ia adalah simbol tekad sekumpulan anak muda yang berani bermimpi untuk Indonesia. Dari ruang kecil itulah, ide besar tentang persatuan Indonesia dilahirkan—oleh pemuda-pemudi yang tak menyerah pada perbedaan. Bangunan yang masih berdiri, menjadi pengingat abadi bahwa persatuan Indonesia lahir dari keberanian pemuda. Setiap 28 Oktober, bangsa ini memperingati Sumpah Pemuda. Hari Sumpah Pemuda Adalah sebuah panggilan untuk menyalakan kembali semangat dalam “Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa: Indonesia”. (STE) Baca juga: Konsep Negara Kesatuan Pilar Pemersatu Bangsa Indonesia

Konsep Negara Kesatuan Pilar Pemersatu Bangsa Indonesia

Wamena - Istilah Negara Kesatuan sering kita dengar dalam pembelajaran di sekolah maupun di kampus tentang kewarganegaraan maupun dalam konteks kenegaraan, namun hal ini masih banyak masyarakat yang belum memahami secara mendalam tentang filosofi apa itu Negara Kesatuan. Negara Kesatuan merupakan bentuk negara yang menjadi dari dasar sistem pemerintahan Republik Indonesia sejak awal kemerdekaan. Pengertian Negara Kesatuan Negara Kesatuan adalah bentuk negara di mana seluruh kekuasaan pemerintahan tertinggi berada di tangan pemerintah pusat. Dalam sistem ini, daerah-daerah tidak memiliki kedaulatan sendiri, tetapi mendapatkan kewenangan dari pemerintah pusat untuk mengatur urusan tertentu. Dengan kata lain, hanya ada satu pemerintahan, satu konstitusi, dan satu kedaulatan nasional yang berlaku bagi seluruh rakyat. Negara Kesatuan dalam Konteks Indonesia Indonesia secara tegas menyatakan diri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Artinya, seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke berada di bawah satu pemerintahan yang berdaulat, yaitu Pemerintah Republik Indonesia. Namun, meski berbentuk kesatuan, Indonesia menerapkan asas desentralisasi, di mana daerah diberikan otonomi untuk mengatur sebagian urusan pemerintahan melalui sistem otonomi daerah. Hal ini dilakukan agar pelayanan publik lebih efektif dan pembangunan daerah lebih merata. Baca juga: Nasionalisme di Era Modern Tujuan dan Manfaat Negara Kesatuan Tujuan utama sistem Negara Kesatuan adalah untuk menjaga keutuhan suatu bangsa dan kedaulatan suatu negara. Dengan adanya satu pemerintahan yang terpusat, koordinasi kebijakan-kebijakan nasional dapat berjalan dengan lebih baik dan mencegah segala bentuk perpecahan antarwilayah yang disebabkan beberapa kepentingan wilyah. Selain dari pada itu, sistem ini memastikan bahwa seluruh rakyat Indonesia mendapatkan hak dan kewajiban yang sama tanpa dibedakan oleh wilayah, suku, ataupun budaya sehingga terbentuklah negara kesatuan yang adil dan merata. Tantangan dalam Menjaga Negara Kesatuan Meski menjadi pilar pemersatu bangsa, menjaga keutuhan Negara Kesatuan bukanlah hal sederhana dan mudah. Sangat banyak tantangan ditemui dalam hal kesenjangan pembangunan antar setiap wilayah, perbedaan kultur sosial-budaya, hingga potensi konflik lokal yang menjadi ujian tersendiri. Pemerintah dan masyarakat harus terus memperkuat semangat persatuan dan kesetaraan, agar NKRI tetap utuh di tengah keberagaman yang ada. Negara Kesatuan bukanlah hanya sekadar bentuk pemerintahan, melainkan simbol komitmen bangsa Indonesia untuk hidup bersama di bawah satu bendera dan satu tujuan. Prinsip ini sejalan dengan semboyan nasional “Bhinneka Tunggal Ika”  berbeda-beda tetapi tetap satu jua. (AAZ) Baca juga: KPU Dorong Integrasi Artificial Intelligence untuk Efisiensi Workflow

Langkah Tegas Menuju Profesionalisme: KPU Nduga Bangun Budaya Disiplin Baru

Wamena - Komisi Pemilihan Kabupaten Nduga memahami bahwa disiplin bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi refleksi dari sikap profesional dan tanggung jawab terhadap tugas negara. Melalui penegakan aturan kerja, sistem absensi yang transparan, dan pembinaan berkelanjutan, KPU Nduga berkomitmen menanamkan nilai-nilai disiplin di setiap lini organisasi. Langkah ini diharapkan melahirkan aparatur yang berintegritas, beretika, dan siap memberikan pelayanan publik terbaik kepada masyarakat. Transformasi Budaya Kerja di Lingkungan KPU Nduga Perubahan tidak terjadi begitu saja. KPU Nduga mengawali transformasi budaya kerja dengan membangun kesadaran dan komitmen bersama seluruh pegawai. Melalui kegiatan seperti apel pagi rutin, evaluasi kinerja mingguan, dan pelatihan manajemen waktu, nilai disiplin dijadikan kebiasaan yang berkelanjutan. Selain itu, sistem kerja berbasis kinerja juga diterapkan untuk memastikan setiap pegawai memahami tanggung jawab dan target yang harus dicapai. Keteladanan Pimpinan Jadi Kunci Perubahan Salah satu kunci sukses perubahan budaya kerja di KPU Nduga adalah keteladanan pimpinan. Para pejabat struktural menunjukkan kedisiplinan dalam waktu, tanggung jawab, dan integritas kerja yang menjadi contoh nyata bagi seluruh staf. Budaya saling mengingatkan dan bekerja dengan hati kini mulai tumbuh di lingkungan KPU Nduga, menciptakan atmosfer kerja yang positif dan produktif. Menuju Lembaga Modern dan Akuntabel Dengan disiplin sebagai pijakan, KPU Nduga berkomitmen membangun lembaga modern yang transparan, akuntabel, dan berorientasi hasil. Penerapan teknologi informasi dalam tata kelola administrasi dan pelaporan menjadi bagian dari strategi menuju birokrasi yang efisien dan responsif terhadap kebutuhan publik. Tujuan akhirnya adalah menjadikan KPU Nduga sebagai lembaga yang dipercaya masyarakat, berintegritas tinggi, dan siap melayani dengan sepenuh hati. Disiplin adalah Langkah Awal Menuju Integritas Perubahan budaya kerja tidak sekadar slogan, ia adalah gerakan nyata. Dengan langkah tegas menuju profesionalisme, KPU Nduga membuktikan bahwa disiplin adalah fondasi dari kepercayaan publik. Semangat ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh jajaran ASN untuk terus menegakkan nilai integritas, tanggung jawab, dan dedikasi demi pelayanan publik yang lebih baik. (HY) Baca Juga:  5 Fakta Unik tentang Wamena: Cuaca, Kebiasaan, Budaya, Transportasi