Berita Terkini

Noken: Simbol Budaya dan Demokrasi

Wamena -  Noken adalah tas anyaman tradisional yang terbuat dari serat kulit kayu atau tali alami. Dalam kehidupan sehari-hari, noken digunakan untuk membawa hasil kebun, barang dagangan di pasar, hingga menggendong anak kecil. Bagi masyarakat adat Papua, khususnya di wilayah pegunungan seperti Kabupaten Nduga, noken memiliki makna yang sangat mendalam di kehidupan, kerja keras, dan kebersamaan. Bagi masyarakat adat di Kabupaten Nduga, noken bukan sekadar alat bantu, tetapi simbol hubungan antara manusia, alam, dan komunitas. Makna filosofis inilah yang menjadikan noken diakui dunia. Pada tahun 2012, UNESCO menetapkan Noken Papua sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, karena nilainya yang mencerminkan perdamaian, kebersamaan, dan harmoni dengan alam. Noken Dalam Proses Pemilu Penyelenggaraan pemilu di Kabupaten Nduga, ada satu hal yang selalu menjadi perhatian: penggunaan noken sebagai wadah dan simbol demokrasi masyarakat adat. Penggunaan noken dalam pemilihan umum dianggap sebagai perwujudan demokrasi berbasis kearifan lokal yang menghormati struktur sosial masyarakat adat Nduga. Tradisi noken dalam pemilu telah diakui secara sah oleh pemerintah sebagai bagian dari sistem demokrasi Indonesia yang berlandaskan pada kearifan lokal. Dalam praktiknya, masyarakat adat melakukan musyawarah untuk menentukan pilihan politik bersama. Setelah mencapai kesepakatan, tokoh yang dituakan bertindak sebagai perwakilan untuk menyampaikan suara masyarakat. Pilihan tersebut kemudian diikat atau dimasukkan ke dalam noken sebagai simbol keputusan bersama. Sistem ini mencerminkan demokrasi berbasis kearifan lokal, di mana setiap warga tetap memiliki hak untuk menyampaikan aspirasinya melalui mekanisme adat yang dijalankan secara terbuka dan penuh kepercayaan. Noken juga mencerminkan nilai musyawarah dan kesepakatan bersama. Payung Hukum Penggunaan Noken Ciri khas pelaksanaan pemilu di Papua adalah penggunaan noken sebagai simbol kearifan lokal. Sistem noken diakui secara sah oleh Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 47-48/PHPU.A-VI/2009, sebagai sistem demokrasi berbasis budaya yang sah di Tanah Papua. Dalam pemilu di Kabupaten Nduga menggunakan sistem noken sebagai bentuk penghormatan terhadap adat. KPU Kabupaten Nduga memastikan bahwa penggunaan sistem noken tetap sesuai dengan asas-asas pemilu dan menjamin keadilan bagi seluruh pemilih. Selain itu, KPU Kabupaten Nduga juga mengatur pelaksanaan sistem noken melalui pedoman teknis yang memastikan transparansi, akuntabilitas, serta memastikan keterlibatan masyarakat adat secara aktif dalam setiap tahap pemungutan suara. Menjaga Noken, Merawat Demokrasi Keberadaan noken bukan hanya menjadi bagian dari proses politik, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Nduga. Melalui noken, masyarakat adat menunjukkan bahwa demokrasi tidak harus seragam, melainkan bisa menyesuaikan dengan nilai-nilai lokal yang telah hidup dan dihormati selama berabad-abad. Sistem noken sebagai bentuk inklusi demokrasi, jembatan antara adat dan demokrasi, karena hak suara masyarakat adat disalurkan dengan kearifan lokal. Penggunaan noken diharapkan terus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi, sekaligus melestarikan budaya lokal sebagai bagian dari warisan bangsa. Setiap ikatan noken menjadi simbol harapan dan tanggung jawab bersama untuk memilih pemimpin yang adil, jujur, dan berpihak pada rakyat. KPU Kabupaten Nduga berkomitmen menjaga nilai-nilai lokal tetap hidup seiring dengan perkembangan sistem demokrasi nasional. Dengan menjaga noken, berarti kita turut melestarikan budaya, memperkuat partisipasi rakyat, dan meneguhkan demokrasi yang berakar dari tanah Papua. (STE) Baca juga: Makna Lagu Mars KORPRI bagi ASN

Makna Lagu Mars KORPRI bagi ASN

Wamena - Untuk membangkitkan semangat mengabdi dan setia kepada negara, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) diingatkan untuk mengingat kembali makna lagu Mars KORPRI, lagu kebangsaan Korps Pegawai Negeri Sipil Republik Indonesia (KORPRI) sebagai simbol semangat, integritas, dan dedikasi para ASN. Mars KORPRI sebagai bentuk Identitas Kebangsaan ASN Mars KORPRI diciptakan sebagai wujud jati diri dan kekompakan bangsa ASN se-Indonesia. Mars KORPRI dikumandangkan Dalam berbagai kesempatan, upacara dan kegiatan resmi, Mars KORPRI selalu dinyanyikan untuk membangkitkan semangat solidaritas dan komitmen ASN dalam tugas dan tanggung jawabnya. Makna Lirik Lagu Mars KORPRI   Septiany Skipi, Staff Subbagian Teknis dan Hukum KPU Kabupaten Nduga, mengatakan bahwa lagu Mars KORPRI adalah lagu yang dinyanyikan dengan penuh semangat dan bangga. Lagu yang stabil, ceria, dan penuh kebanggaan untuk dinyayikan. Lagu yang menggambarkan semangat pengabdian kita kepada bangsa dan negara dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Satuan irama langkah mu Bersatu tekad menuju ke depan Berjuang Bahu membahu Membrikan tenaga tak segan Lirik di atas mempunyai makna yang sangat mendalam. Keberagaman asal usul ASN baik adat, suku, budaya, kepercayaan, dan lain-lain membuat keberagaman tersebut mengarah pada satu tujuan. Majulah dengan percaya diri, semangat dan tekad yang kuat. Sebagai pelayan masyarakat, kita berjuang bersama untuk menjadikan bangsa dan negara ini lebih baik, dimulai dari hal yang kecil. Biografi Singkat E.L. Pohan Menurut sumber dari kompas.com, E.L. Pohan memiliki nama lengkap Epaphroditus Laurentius Pohan-Siahaan. E.L. Pohan lahir pada tahun 1917 dan meninggal pada tahun 1993. Beliau merupakan seorang guru vokal, pencipta lagu, penggubah lagu, tokoh musik nasional yang berasal dari tanah Batak. (ANY) Baca juga: Kisah Frans Duppa: Pemilu di Nduga Bukan Sekadar Tugas, Tapi Pengabdian

Kisah Frans Duppa: Pemilu di Nduga Bukan Sekadar Tugas, Tapi Pengabdian

Wamena - Menjadi penyelenggara pemilu bukanlah pekerjaan mudah di daerah yang memiliki tantangan geografis dan keamanan. Namun bagi Frans Duppa, seorang pegawai KPU Kabupaten Nduga, ini lebih dari sekadar tugas untuk memberikan dukungan, tetapi juga bentuk komitmen kepada negara dan masyarakat.  Frans menjadi bagian dari Sekretariat KPU Nduga pada Januari 2021 setelah lulus seleksi CPNS 2020 dan menerima penugasan ke Nduga. Ia sempat khawatir karena Nduga dianggap sebagai daerah rawan konflik. Meski begitu, semangat pengabdian mengalahkan rasa takut yang muncul.  “Tapi ketika saya mendengar saya ditugaskan ke Nduga, saya khawatir. Namun karena ini adalah tugas nasional, semacam dedikasi, saya memutuskan untuk pergi”, ujar Frans.  Awal tugas: Dari Timika ke Nduga dengan hati yang berat penuh komitmen Frans pertama kali menghadapi tantangan saat ditugaskan untuk membantu verifikasi partai politik dalam persiapan pemilu. Berangkat dengan pesawat kecil, ia terbang ke Kenyam di Nduga, bersama rekan-rekannya dari Subbagian Teknis serta anggota KPU Nduga. Sesampainya di sana, Frans menginap di satu-satunya hotel di Nduga.  Listrik hanya tersedia pada malam hari dan sepenuhnya mati pada siang hari. Air bersih sangat langka, sehingga harus mengambil air sendiri dan menggunakan air hujan untuk mandi. “Pengalaman itu tidak akan pernah saya lupakan. Semuanya serba terbatas, tetapi semangat kerja kami tidak pernah goyah,” katanya.  Verifikasi Partai Politik Menjadi Pengalaman Berharga  Selama proses verifikasi, Frans mendampingi Anggota KPU Nduga Mira Waraseak untuk bertemu dengan anggota partai politik. Ia terjun langsung melihat sambutan hangat masyarakat Nduga yang menyambut tim KPU dengan hati terbuka.  “Masyarakat Nduga memberi sambutan yang sangat istimewa dan penuh hormat. Mereka menunjukkan keramahan kerja saat menyambut orang,” tambah Frans.  Pengalaman inilah yang membuat Frans menyadari bahwa pemilu lebih dari sekadar menjalankan prosedur, tetapi membangun kepercayaan dengan masyarakat.  Membangun Demokrasi di Ujung Negeri Frans telah mengembangkan visi yang semakin jelas tentang masyarakat Nduga selama bertahun-tahun. Sepanjang itu dia bisa mendengar mengapa masyarakat berpartisipasi dalam pemilu meskipun ada banyak hambatan. Hal yang lebih penting, ia menyadari bahwa fungsi penyelenggara pemilu adalah agar setiap suara warga dapat didengar.  “Pemilu di Nduga bukan sekadar tugas bagi saya. Ini adalah dedikasi. Ini tentang membawa demokrasi ke ujung negeri,” katanya dengan keyakinan.  Frans berharap agar generasi muda Nduga dapat berpartisipasi dalam meletakkan demokrasi di tanah Nduga. Ia menegaskan bahwa masa depan pemilu yang kuat tidak dapat dipisahkan dari peran yang dimainkan oleh generasi muda yang mencintai daerah mereka.  "Generasi muda harus berani mengambil risiko dan melangkah maju. KPU tidak bisa melakukan ini sendirian, butuh orang-orang yang mencintai daerah mereka,” ujarnya. (FPH) Baca juga: Sinergi dan Transparansi: Cara KPU Nduga Meningkatkan Kepercayaan Publik Melalui Humas

Sinergi dan Transparansi: Cara KPU Nduga Meningkatkan Kepercayaan Publik Melalui Humas

Wamena - Dalam menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara pemilu, KPU Kabupaten Nduga memperhatikan tahapan teknis serta cara berkomunikasi dengan masyarakat. Subbagian Partisipasi dan Hubungan Masyarakat KPU Nduga terus berupaya membangun kerja sama dan transparansi dalam setiap langkah. Membangun Jembatan Komunikasi Humas KPU Nduga berfungsi sebagai penghubung antara masyarakat dan lembaga. Agar masyarakat dapat memahami proses demokrasi dengan baik, semua kegiatan, informasi, dan keputusan penting diumumkan secara terbuka. KPU Nduga memastikan bahwa setiap informasi disampaikan dengan jelas, benar, dan berimbang melalui berbagai kanal komunikasi, mulai dari media sosial, publikasi online, hingga pertemuan langsung di lapangan. Herman Yohanes selaku Kepala Subbagian Partisipasi, Hubungan Masyarakat dan SDM menyatakan, "Kami ingin masyarakat tahu apa yang kami lakukan, bagaimana prosesnya, dan mengapa itu penting. Karena kepercayaan lahir dari keterbukaan." Transparansi sebagai Prinsip Dasar Transparansi adalah bagian dari budaya kerja KPU Nduga. Laporan terbuka, publikasi hasil, dan dokumentasi disertakan dengan setiap upaya. Proses ini digunakan oleh KPU untuk memastikan bahwa setiap tahapan pemilihan dilakukan dengan cara yang jujur, adil, dan akuntabel. Humas KPU Nduga menyampaikan informasi yang tidak hanya informatif tetapi juga edukatif melalui publikasi kegiatan, laporan kinerja, dan pelatihan pemilih.  Menjaga Kepercayaan dan Menguatkan Demokrasi Keberhasilan dalam mempertahankan kepercayaan publik bergantung pada sinergi antar bagian di KPU. Setiap kegiatan lebih terarah dan terukur ketika bidang teknis, hukum, dan humas bekerja sama. KPU Kabupaten Nduga ingin terus hadir sebagai lembaga yang dapat dipercaya oleh masyarakat dan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan demokrasi yang inklusif dan bermartabat melalui transparansi dan partisipasi aktif. (HY) Baca juga: Noken: Simbol Budaya dan Demokrasi

Rahasia di Balik Pemilu Selalu Digelar Hari Rabu

Wamena – Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia selalu digelar pada hari Rabu? Bukan Senin, bukan Jumat, apalagi Minggu. Ternyata, pemilihan hari Rabu bukan sekadar kebetulan. Ada alasan logis dan historis di balik keputusan ini. Alasan Teknis: Menghindari Golput dan Akhir Pekan Andarias S. Pandallingan, Kepala Subbagian Perencanaan, Data, dan Informasi KPU Kabupaten Nduga, mengatakan bahwa hari Rabu dipilih karena alasan teknis yang signifikan. Agar pemungutan suara tidak terlalu dekat dengan akhir pekan, pemungutan suara dilakukan setiap hari rabu. Ia menyatakan bahwa tujuan utamanya adalah meningkatkan partisipasi pemilih dan mengurangi kemungkinan terjadinya golongan putih (Golput). Rabu dianggap sebagai hari tengah pekan paling netral. Jika pemilihan dilakukan pada hari Jumat atau Sabtu, orang cenderung memilih untuk berlibur atau berkumpul dengan keluarga mereka daripada pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dengan pemilihan hari Rabu, para pemilih dapat meluangkan waktu mencoblos tanpa mengorbankan akhir pekan mereka. Hari Libur Nasional Karena Pemilihan Masyarakat tidak perlu khawatir meskipun rabu adalah hari kerja. Untuk memastikan bahwa semua orang dapat menggunakan hak suaranya dengan nyaman, pemerintah menetapkan hari pemungutan suara sebagai hari libur nasional. Sejarah menunjukkan bahwa Pemilu di Indonesia selalu diadakan pada hari rabu, seperti yang terjadi pada Pemilu 2004, 2009, 2014, 2019, dan 2024. Pola ini tampaknya akan terus berlanjut bahkan pada Pemilu 2029. Pemilihan Umum KPU Nduga 2024: Aman dan Lancar Selain itu, pemilihan tahun 2024 yang diadakan pada hari rabu berlangsung dengan baik di Kabupaten Nduga. KPU Nduga melakukan pesta demokrasi dengan aman dan lancar. Andarias menyatakan bahwa kerja sama lintas sektor menjadi kunci sukses penyelenggaraan Pemilu 2024. Semua pihak bekerja keras memastikan proses demokrasi di Nduga berjalan dengan tertib dan damai, katanya. Menjelang Pemilu 2029: Meningkatkan Demokrasi KPU Kabupaten Nduga memiliki banyak harapan menjelang Pemilu 2029. Diharapkan demokrasi akan berjalan dengan lebih baik, adil, dan bermartabat. Sangat penting bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif, yang mencakup tidak hanya mencoblos, tetapi juga ikut mengawasi hasil pemilu dan menilai kinerja pejabat terpilih. “Semoga kita dapat terus mewujudkan prinsip-prinsip dasar pelaksanaan pemilihan umum sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 22E ayat (1)”, ujar Andarias. (ANY)   Baca juga: Pemilih Potensial Gen Z dalam Pemilu 2029: Energi Baru untuk Demokrasi di Kabupaten Nduga

Pemilih Potensial Gen Z dalam Pemilu 2029: Energi Baru untuk Demokrasi di Kabupaten Nduga

Wamena - Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Nduga mulai memetakan kelompok pemilih potensial dari Generasi Z (Gen Z) yang diprediksi akan mendominasi Daftar Pemilih Tetap (DPT). Gen Z akan menjadi kekuatan baru dalam peta politik Indonesia, termasuk di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Sebagai generasi muda yang lahir di era digital, mereka membawa semangat segar dan cara pandang baru terhadap partisipasi politik serta demokrasi. KPU Kabupaten Nduga berupaya mempersiapkan untuk meningkatkan literasi politik di kalangan Gen Z agar mereka tidak sekadar menjadi pemilih pemula, tetapi juga pemilih cerdas dan aktif dalam setiap tahapan pemilu. Gen Z: Harapan Baru Demokrasi Lokal Pada tahun 2029, sebagian besar dari mereka akan berusia antara 17 hingga 32 tahun, usia produktif yang sudah memiliki hak pilih penuh. Kehadiran Gen Z di Kabupaten Nduga menjadi penting karena mereka memiliki cara berpikir kritis, cepat beradaptasi dengan teknologi, dan lebih terbuka terhadap isu sosial dan politik. Gen Z tidak hanya ingin menjadi penonton, tetapi juga ingin berpartisipasi langsung dalam menentukan arah kebijakan publik. Kesadaran ini menjadi modal penting bagi KPU Kabupaten Nduga untuk terus memperkuat pendidikan pemilih agar generasi muda memahami peran strategisnya dalam menentukan masa depan Kabupaten Nduga. Karakteristik Pemilih Gen Z di Nduga Gen Z memiliki karakter yang bertumbuh di tengah perkembangan teknologi informasi dan media digital. Karena itu, KPU Kabupaten Nduga berperan aktif memberikan edukasi dan pendidikan pemilih kepada kelompok muda dalam penyelenggaraan pemilu melalui program-program yang menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran bahwa satu suara Gen Z memiliki arti penting bagi masa depan Nduga. Hal ini menunjukkan bahwa masa depan demokrasi di Nduga bergantung pada tingkat partisipasi Gen Z. KPU Kabupaten Nduga terus melakukan berbagai upaya untuk Gen Z mampu memahami pentingnya hak suara dan berpartisipasi aktif dalam menentukan arah pembangunan daerah. Peran KPU Kabupaten Nduga dalam Meningkatkan Partisipasi Gen Z KPU Kabupaten Nduga berkomitmen meningkatkan partisipasi pemilih muda melalui berbagai strategi komunikasi yang disesuaikan dengan gaya Gen Z. Pemanfaatan media sosial resmi KPU Kabupaten Nduga untuk menyebarkan informasi seputar tahapan pemilu, hingga pentingnya hak suara. Melalui pendekatan komunikasi yang sesuai dengan gaya Gen Z - visual, singkat, dan interaktif - diharapkan pesan demokrasi dapat tersampaikan dengan lebih efektif. Selain itu, KPU Kabupaten Nduga juga menggandeng pihak sekolah untuk mengajak generasi muda memahami pentingnya ikut serta dalam setiap tahapan pemilu. Partisipasi Gen Z bukan hanya sebatas mencoblos di bilik suara, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menjaga integritas demokrasi. Gen Z: Harapan Baru Demokrasi di Papua Pegunungan Generasi Z memiliki semangat tinggi untuk berkontribusi bagi daerahnya. Mereka adalah wajah masa depan Kabupaten Nduga yang membawa nilai-nilai kejujuran, kreativitas, dan kolaborasi. Keterlibatan mereka dalam Pemilu bukan hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai penjaga nilai demokrasi yang jujur, adil, dan transparan. KPU Kabupaten Nduga percaya bahwa keberhasilan Pemilu tidak hanya diukur dari angka partisipasi, tetapi juga dari kualitas kesadaran politik masyarakat, terutama generasi muda. Dengan semangat dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan, Gen Z di Kabupaten Nduga siap menjadi garda depan demokrasi dalam membangun masa depan yang berakar pada nilai-nilai kejujuran, kebersamaan, dan kearifan lokal di Kabupaten Nduga. (STE) Baca juga: Sesuai PP No. 94 Tahun 2021, Perkuat Disiplin ASN: KPU Kabupaten Nduga Laksanakan Pertemuan Internal