Berita Terkini

Kamus Hukum

Wamena - Dalam kehidupan sehari-hari, istilah hukum lekat dan muncul dalam berbagai konteks, mulai dari pemberitaan nasional, kebijakan pemerintah, hingga kasus sosial di masyarakat. Sayangnya, tidak semua istilah hukum mudah dipahami oleh publik. Karena itu perlu ada kamus hukum yang merujuk untuk membantu masyarakat memahami makna setiap istilah hukum secara tepat dan akurat. Di era ketika akses informasi semakin cepat, kehadiran kamus hukum menjadi kebutuhan utama dalam meningkatkan literasi hukum masyarakat. Apa Itu Kamus Hukum? Kamus hukum adalah kumpulan istilah-istilah hukum beserta penjelasan, definisi, dan konteks penggunaannya. Berbeda dari kamus umum, kamus hukum berisi istilah teknis yang sering digunakan dalam undang-undang, peraturan pemerintah, putusan pengadilan, hingga dokumen administrasi negara. Kamus ini membantu pembaca memahami konsep yang rumit, termasuk istilah Latin, istilah peradilan, hingga konsep dalam hukum administrasi, pidana, perdata, tata negara, maupun hukum acara. Kamus hukum tidak hanya dipakai oleh mahasiswa hukum atau praktisi seperti hakim, advokat, dan jaksa, tetapi juga oleh masyarakat umum yang ingin memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara. Sebuah kamus hukum biasanya memuat ribuan istilah legal lengkap dengan sumber atau referensi undang-undang. Di antara istilah-istilah penting tersebut, beberapa contohnya adalah: Mensrea: niat perbuatan jahat dari seorang pelaku kejahatan Praesumptio lustae Causa: asas praduga keabsahan adalah bahwa tindakan penguasa dianggap sah sesuai aturan hukum sampai dinyatakan sebaliknya Grasi: pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh presiden Vrijspraak: putusan bebas atau tindak pidana yang didakwakan jaksa/penuntut umum dalam surat dakwaannya tidak terbukti secara sah dan menyakinkan menurut hukum Bewijsgrond: alasan dan keadaan dalam menentukan penggunaan alat bukti Locus: tempat terjadinya suatu peristiwa Amnesti: tindakan pengampunan atau penghapusan hukum yang diberikan oleh kepala negara kepada individu atau sekelompok individu yang telah melakukan tindak pidana tertentu Probono: suatu perbuatan atau pelayanan hukum yang dilakukan untuk kepentingan umum atau pihak yang tidak mampu tanpa dipungut biaya Legitimatie: penyataan sah, pengesahan Tenminste: berasal dari bahasa Belanda yang artinya “sekurang-kurangnya”, “paling sedikit”, atau “paling tidak” Judical Actiivism: prinsip pengambilan keputusan dimana hakim lebih menggunakan pandangannya dibanding faktor-faktor lain mengenai suatu kebijakan dalam mewujudkan keadilan.    Istilah-istilah ini sering digunakan dalam proses peradilan, administrasi negara, dan penyusunan kebijakan publik. Dengan adanya kamus hukum, masyarakat dapat mengakses makna dari istilah tersebut dengan lebih mudah. Peran Kamus Hukum dalam Pendidikan dan Profesi Hukum Bagi mahasiswa hukum, kamus hukum merupakan alat bantu utama dalam memahami materi kuliah yang penuh dengan istilah teknis. Sementara bagi praktisi, kamus hukum membantu memastikan bahwa setiap istilah dalam dokumen resmi digunakan dengan tepat tanpa menimbulkan ambiguitas. Dalam dunia peradilan, ketepatan istilah sangat penting karena satu kata dapat mengubah arah putusan. Misalnya perbedaan antara “putusan bebas” dan “lepas dari segala tuntutan hukum” memiliki konsekuensi hukum yang sangat berbeda. Kamus hukum turut memastikan bahwa setiap istilah dipahami secara konsisten. Seiring berkembangnya teknologi, kamus hukum kini tidak hanya tersedia dalam bentuk buku cetak, tetapi juga aplikasi digital dan platform daring. Kehadiran kamus hukum digital mempermudah pencarian definisi secara cepat, akurat, dan dapat diakses kapan saja. Banyak institusi pendidikan, lembaga hukum, hingga organisasi pemerintah kini memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan literasi hukum masyarakat. Akses yang cepat dan mudah memastikan bahwa pemahaman publik terhadap hukum semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kamus hukum merupakan sumber pengetahuan yang vital dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap dunia hukum. Di tengah kompleksitas regulasi dan semakin banyaknya istilah yang muncul dalam kehidupan publik, keberadaan kamus hukum membantu masyarakat untuk menghindari kesalahpahaman serta meningkatkan pemahaman terhadap aturan yang berlaku. Dengan literasi hukum yang lebih baik, masyarakat Indonesia dapat berperan aktif dalam mengawal keadilan, memahami haknya, serta berpartisipasi secara cerdas dalam kehidupan demokrasi. Kamus hukum bukan sekadar buku acuan, tetapi fondasi penting bagi masyarakat yang sadar hukum. (FPH) Baca juga: Mengenal Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu

Hari Nusantara, Merayakan Persatuan di atas Lautan

Wamena – Sebuah momentum perayaan penting akan pentingnya mengenang suatu peristiwa akan pentingnya mengenang jati diri bangsa indonesia sebagai sebuah negara kepulauan yang disatukan oleh lautan. Pada tanggal 13 Desember Indonesia memperingati Hari Nusantara bukan sekedar seremoni kenegaraan melainkan ajakan bagi setiap warga untuk Kembali melihat laut sebagai perekat kehidupan, bukan justru sebagai pemisah. Laut yang Menyatukan, Bukan Memisahkan Dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote, hamparan laut biru membentang luas. Di balik luasnya perairan itu, hidup jutaan cerita tentang nelayan yang bangun sebelum matahari terbit, tentang pelaut yang setia menjaga perairan, hingga anak-anak pesisir yang bermain di tepi pantai sambil menyongsong mimpi. Laut adalah halaman depan rumah bagi banyak keluarga Indonesia. Ia memberi makan, memberi pekerjaan, dan menjadi jembatan penghubung antara satu pulau dengan pulau lainnya. Kehidupan Pesisir yang Menjaga Identitas Bangsa Di desa-desa pesisir, masyarakat hidup dalam harmoni dengan laut. Mereka menjaga tradisi melaut, membuat perahu, dan merawat budaya bahari yang diwariskan turun-temurun. Pada Hari Nusantara, kisah-kisah mereka menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa ini tumbuh dari tangan-tangan yang bekerja dengan kejujuran dan ketabahan. Para ibu mengolah hasil laut untuk dijual di pasar, anak-anak muda belajar teknologi untuk meningkatkan ekonomi perikanan, sementara para tokoh adat menjaga kearifan lokal agar tetap hidup di tengah modernisasi. Baca juga: Memaknai Hari Bela Negara Sebagai Panggilan Hati Untuk Indonesia Generasi Baru Penjaga Laut Nusantara Di kota-kota besar, semangat Nusantara juga hadir lewat komunitas anak muda yang peduli terhadap laut. Mereka membersihkan pantai, menanam mangrove, dan membuat kampanye digital tentang pentingnya ekosistem pesisir. Aksi kecil yang dilakukan dengan ketulusan ini mencerminkan bahwa kepedulian pada laut bukan milik masyarakat pesisir saja, melainkan seluruh anak bangsa. Merawat Laut, Merawat Masa Depan Hari Nusantara mengajak setiap orang untuk melihat laut sebagai masa depan Indonesia. Di tengah perubahan iklim dan tantangan lingkungan, menjaga laut berarti menjaga kehidupan generasi berikutnya. Momentum ini menjadi pengingat bahwa Indonesia sesungguhnya besar bukan hanya karena tanahnya, tetapi karena lautan yang menyatukan jutaan manusia di dalamnya.(AAZ) Baca juga: Jakarta Undercover Kota yang Sibuk Dengan Banyak Cerita

Memaknai Hari Bela Negara Sebagai Panggilan Hati Untuk Indonesia

Wamena - Setiap tanggal 19 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Bela Negara. Namun peringatan ini bukan sekadar seremoni atau rangkaian upacara. Ia adalah cermin bahwa kecintaan pada tanah air tumbuh dari tindakan-tindakan sederhana yang lahir dari hati setiap warga negaranya. Bela Negara Bukan Hanya Angkat Senjata Di tengah dinamika kehidupan modern, bela negara tidak lagi dimaknai sebagai keberanian berperang semata. Bela negara adalah keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat Indonesia tetap utuh: persatuan, gotong royong, dan kesadaran untuk saling melindungi. Setiap guru yang mendidik dengan ketulusan, tenaga kesehatan yang merawat tanpa memandang siapa pasiennya, hingga wirausaha kecil yang jujur dalam usahanya—semuanya adalah wajah-wajah bela negara yang nyata. Nilai yang Hidup dalam Kehidupan Sehari-hari Di kampung-kampung, masyarakat bahu-membahu memperbaiki jalan yang rusak. Di kota-kota besar, anak muda bergerak membersihkan sungai, mengajar anak jalanan, atau membantu korban bencana. Meski tampak sederhana, tindakan-tindakan kecil ini menghidupkan semangat bela negara dalam makna yang paling manusiawi. Baca juga: Jakarta Undercover Kota yang Sibuk Dengan Banyak Cerita Generasi Muda, Harapan yang Menyala Generasi muda Indonesia menjadi motor penting dalam menghidupkan semangat ini. Mereka yang aktif berorganisasi, berkarya di dunia digital, atau ikut menjaga ruang publik dari informasi palsu sesungguhnya tengah membela negara dengan cara yang paling relevan di zaman ini. Mereka menunjukkan bahwa mencintai Indonesia bisa dimulai dari menjaga integritas diri, membangun kreativitas, hingga berani berbuat baik kepada sesama. Bela Negara Adalah Ikhtiar Kolektif Dengan cara sederhana atau dalam tugas yang besar, setiap tindakan baik untuk bangsa adalah benih bela negara. Ia bukan kewajiban yang membebani, melainkan panggilan hati untuk menjaga rumah bersama bernama Indonesia. Dan pada Hari Bela Negara ini, kita diingatkan kembali bahwa kekuatan bangsa bukan hanya pada pasukan atau teknologi, melainkan pada manusia-manusia yang memilih untuk peduli.(AAZ) Baca Juga: Pantai Mutiara Jakarta, Sudut Tenang di Tengah Riuh Ibu Kota

Keindahan Alam Pulau Komodo

Wamena – Keindahan alam di Indonesia kali ini datang dari bagian timur. Keindahan alam di daerah bagian timur tak kalah indah dari daerah-daerah yang ada di Indonesia. Salah satu keindahan itu adalah Pulau Komodo. Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi paling ikonik di Indonesia. Melihat Komodo di Habitat Aslinya Habitat Komodo menjadi aspek penting jika kita berlibur ke Pulau Komodo. Daya tarik utama Pulau Komodo tentu saja adalah kesempatan untuk bertemu langsung dengan komodo di habitat aslinya. Didampingi ranger atau pemandu khusus, wisatawan dapat melakukan trekking di jalur yang sudah ditentukan. Selama perjalanan, pengunjung biasanya melihat aktifitas komodo mulai dari beristirahat di bawah pepohonan, berjalan di padang savana, atau sekadar menyimak jejak kaki mereka di tanah. Bentang Alam yang Menenangkan Hati Pulau ini dikelilingi oleh pemandangan alam yang begitu menawan. Laut biru jernih, ombak tenang, dan suasana yang sepi membuat siapa pun bisa merasakan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Banyak traveler yang mengaku bahwa Pulau Komodo adalah salah satu tempat terbaik untuk melepas penat dan mengisi ulang energi. Keajaiban Bawah Laut yang Mendunia Perairan di sekitar Pulau Komodo merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo yang terkenal sebagai salah satu spot diving terbaik di dunia. Ikan pari manta, penyu, hiu karang, hingga ribuan ikan tropis sering menjadi pemandangan yang membuat penyelam enggan naik ke permukaan. Snorkeling menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang tidak menyelam. Meski berada di permukaan, keindahan terumbu karang dan ikan warna-warni sudah bisa dinikmati dengan jelas. Beberapa pantai seperti Pink Beach yang terkenal dengan pasir berwarna merah muda sering menjadi lokasi favorit untuk menikmati pesona bawah laut sambil bersantai. Hubungan Masyarakat Lokal Masyarakat yang tinggal di sekitar Pulau Komodo adalah masyarakat yang ramah. Salah satunya memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam. Karena masyarakat dan Komodo ini sudah saling terikat. Mereka tumbuh bersama cerita tentang komodo, membangun kehidupan dengan menghormati satwa tersebut, dan menjaga keseimbangan alam yang ada. Keramahan masyarakat lokal menjadi bagian dari daya tarik wisata, karena mereka selalu terbuka berbagi cerita mengenai budaya, tradisi, dan kehidupan sehari-hari. Banyak dari mereka yang kini bekerja sebagai ranger, pemandu wisata, hingga pengelola akomodasi berbasis komunitas. Upaya ini tidak hanya membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga memperkuat kesadaran akan pentingnya konservasi Pulau Komodo. Pelestarian yang Menjadi Prioritas Bersama Pelestarian menjadi prioritas utama ditengah tingginya minat wisatawan. Pemerintah bersama pengelola taman nasional melakukan penataan jalur trekking, pembatasan jumlah kunjungan, serta program konservasi komodo secara berkelanjutan. Wisatawan pun diimbau untuk tidak membuang sampah, menjaga lingkungan, dan mematuhi aturan demi keselamatan diri serta kelestarian ekosistem. (ANY) Baca juga: Keindahan Alam Kepulauan Karimunjawa

Abolisi, Grasi, Remisi, dan Rehabilitasi: Penjelasan Lengkap, Dasar Hukum, dan Contoh Kasus yang Pelu Diketahui Publik

Wamena – Rasa ingin tahu masyarakat tentang abolisi, grasi, remisi, dan rehabilitasi seiring dengan pembahasan isu hukum di ruang publik. Empat istilah yang terdengar akrab namun bagaimana untuk membedakan fungsi dan kewenangan masing-masing. Apa itu Abolisi? Abolisi merupakan bentuk pengampunan yang diberikan Presiden untuk menghapus tuntuan pidana terhadap seseorang atau sekelompok orang. Proses peradilan dapat dihentikan meskipun perkaranya belum diputus melalui abolisi. Dasar hukum abolisi yang diatur dalam Pasal 14 ayat (2) UUD 1945 yang menerangkan bahwa Presiden memberikan abolisi dengan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Abolisi akan diberikan dalam kondisi kasus dianggap memiliki muatan politik, terdapat pertimbangan kepentingan umum, dan proses peradilan yang dinilai menimbulkan ketegangan sosial. Dampak dari abolisi tuntutan pidana dapat dihapuskan dan perkara gugur sebelum memasuki persidangan lanjutan. Apa itu Grasi? Grasi adalah pengampunan yang diberikan Presiden kepada narapidana berupa pengurangan hukuman, perubahan jenis hukuman, dan penghapusan hukuman sepenuhnya. Fokus dari grasi terletak pada hukuman yang telah dijatuhkan oleh pengadilan. Dasar hukum grasi tercantum dalam pasal 14 UUD 1945, Undang-Undang Tahun 2002 Nomor 22, dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010 yang menyempurnakan aturan tentang grasi yang merupakan bentuk perubahan dari UU No. 22 Tahun 2002. Ciri-ciri seorang narapidana mendapatkan grasi antara lain; terpidana yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht), tidak menghapus status bersalah, dan pengajuan dapat dilakukan oleh terpidana atau keluarganya. Grasi diberikan untuk kasus pidana umum dengan alasan kemanusiaan, usia lanjut, dan kondisi kesehatan yang berat. Apa itu Remisi? Remisi adalah pengurangan masa hukuman yang diberikan kepada narapidana dalam hari besar nasional atau agama. Pemberian remisi dibawah wewenang Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Remisi memiliki beberapa jenis, antara lain; Remisi umum yang diberikan pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. Remisi khusus yang diberikan pada hari besar agama sesuai dengan keyakinan narapidana. Remisi tambahan yang diberikan untuk narapidana yang berjasa seperti menyumbangkan tenaganya bagi negara atau membantu fasilitas lembaga pemasyarakatan (lapas). Remisi khusus tambahan yang diberikan untuk kasus tertentu dengan syarat tertentu juga. Narapidana mendapatkan remisi apabila berkelakuan baik, telah menjalani masa pidana minimal 6 bulan, dan tidak sedang menjalani hukuman disiplin. Dasar hukum remisi tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, Permenkumham Nomor 3 Tahun 2018, Permenkumham Nomor 18 Tahun 2019 perubahan pertama atas Permenkumham Nomor 3 Tahun 2018 , Permenkumham Nomor 7 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Permenkumham Nomor 3 Tahun 2018, dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2023 adalah Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 3 Tahun 2018. Apa itu Rehabilitasi? Rehabilitasi adalah pemulihan hak seseorang yang dituduh, ditangkap, diadili tanpa dasar yang sah, atau Ketika seseorang dinyatakan tidak bersalah.  Rehabilitasi merupakan kewenangan Presiden dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (MA). Dasar hukum rehabilitasi berlandaskan Pasal 14 ayat (1) UUD 1945, Pasal 1 (23) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP), dan Pasal 95 ayat (1) KUHAP. Rehabilitasi merupakan hak seorang untuk mendapat pemulihan harkat serta martabatnya yang diberikan pada tingkat penyidikan, penuntutan atau peradilan karena ditangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang. Selain diadili tanpa alasan, rehabilitasi juga merupakan hak pemulihan karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan. alam hal ini, terdakwa atau terpidana memiliki hak untuk menuntut ganti kerugian karena ditangkap, ditahan, dituntut dan diadili atau dikenakan tindakan lain, tanpa alasan berdasarkan UU atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan. (STE) Baca juga: Mengapa Supremasi Hukum Penting? Penjelasan dan Isu Aktual di Indonesia

Natal 2025: Momentum Sejarah Perayaan Natal Bersama Kemenag Penguatan Harmoni Bangsa

Wamena – Natal Bersama yang diinisiasi oleh Kementerian Agama (Kemenag) 2025 sebagai momentum nasional yang memperkuat Indonesia dalam kemajemukan yang hidup rukun, harmonis, dan inklusif. Sebuah perayaan bagian dari perjalanan bangsa Indonesia dalam merawat kebinekaan. Perayaan Natal Bersama pada 20 Desember 2025 secara resmi pertama kali dalam sepanjang sejarah Indonesia. Tema Besar C-LIGHT: Christmas - Love in God, Harmony Together Kemenag mengangkat tema C-LIGHT: Christmas - Love in God, Harmony Together. Tema yang dipilih untuk menegaskan bahwa cinta kasih dan harmoni merupakan nilai universal yang dapat menyatukan seluruh umat beragam tanpa memandang latar belakang. Baca juga: Rhema Alkitab Menjelang Natal: Makna Mendalam dari Matius 21:42 Perayaan Natal Bersama 2025 oleh Kemenag sebagai contoh penguatan integrasi antaragama yang menghadikan ruang lintas iman. Tujuan dari perayaan Natal Bersama 2025 menegaskan bahwa setiap agama selalu mengajarkan kebaikan, cinta kasih, dan sikap saling menghargai. Natal Bersama 2025: Simbol Persatuan dan Ruang Lintas Agama Kemenag menjadi pionir dalam penyelenggaraan Natal Bersama lintas agama. Momen Natal Bersama 2025 menjadi bagian sejarah sebagai wujud komitmen negara dalam menempatkan Kemenag sebagai rumah bagi seluruh pemeluk agama. Perayaan Natal Bersama 2025 menunjukkan bahwa keberagaman dapat dirayakan Bersama dalam suasana saling menghormati. Perayaan Natal Bersama 2025 menjadi simbol bahwa Indonesia mampu menjaga persatuan dalam berbagai perbedaan. Langkah nyata Kemenag yang menjadi contoh bagi instansi pemerintah dalam menghadirkan suasana Natal Bersama untuk menciptakan moderasi beragama, toleransi, dan harmoni antaragama sebagai kunci menjaga persatuan Indonesia. (STE)