Berita Terkini

Kenali Tipe Penunda: Pentingnya Mengelola Waktu dalam Mendukung Kinerja dan Layanan Publik

Wamena - Sebagai bagian dalam lembaga KPU, pegawai perlu mengetahui pentingnya mengelola waktu dengan mengenali tipe-tipe penunda serta cara efektif mengatasinya. Hal ini karena mengetahui pentingnya mengelola waktu menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga profesionalisme aparatur penyelenggara pemilu. 

Berikut merupakan tipe penunda dan rekomendasi cara efektif mengatasinya:

  1. The avoider terjadi karena otak memprediksi ketidaknyamanan yang mengakibatkan sering menghindari suatu tugas/pekerjaan. Fokus cuma pada memulai, bukan untuk menyelesaikan. Hal efektif yang dapat dilakukan ialah  memulai dengan 3 menit dulu untuk menurunkan task aversion dan mengaktifkan momentum.
  2. The scroller, tipe yang selalu mengecek media sosial secara terus menerus. Hal yang dapat dilakukan ialah menjauh atau dengan menjauhkan HP secara fisik. Self control bukan solusi. Simulasi kontrol menjadi lebih efektif dengan menaruh HP di ruangan lain, atau dengan mengatur waktu 25 menit fokus lanjut 5 menit break. Hal ini menjadi lebih efektif untuk menghilangkan pemicu menurunkan impuls checking.
  3. The perfectionist, tipe yang harus mengerjakan sesempurna mungkin. Hal yang harus dilakukan ialah mengerjakan versi yang buruk lebih dulu, hal ini karena perfectionist memicu paralysis by analysis. Hal yang perlu dilakukan ialah buat versi 0.1, outline kasar, bullet yang berantakan, dan sempurnakan setelah ada bentuk. Ini menjadi efektif karena draft yang jelek mengurangi tekanan kognitif dan membuka ruang iterasi.
  4. The people pleaser, penunda yang tidak enakan untuk menolak. People pleaser menganggap tugas sebagai janji formal, sehingga memprioritaskan eksternal demands daripada persona goals. Hal yang perlu dilakukan ialah menulis 3 tugas “janji pribadi hari ini” dan perlu segera dieksekusi sebelum membantu orang lain. Hal ini menjadi lebih efektif untuk melatih boundary management and self respect.
  5. The rebel, yang menekankan pada "kenapa harus saya?". The rebel perlu melakukan re-frame terhadap tugas sebagai bahan belajar tambahan karena tipe ini cenderung bereaksi negatif terhadap perintah eksternal sehingga perlu mengubah tugas menjadi keuntungan pribadi. Hal ini menjadi efektif untuk mengubah loss-frame menjadi gain-frame guna memicu motivasi intrinsik.
  6. The overthinker yang terlalu memikirkan dengan keras sehingga bingung harus mulai darimana. Hal yang perlu dilakukan adalah berani memilih satu langkah saja. Overthinking mengacaukan executive function and cognitive load, sehingga perlu untuk menulis tugas dan memecahnya menjadi langkah paling kecil yang dieksekusi dari langkah yang paling mudah. Hal ini menjadi lebih efektif karena mengurangi beban mental dan memicu progress loop.
  7. The hopeless one, tipe yang sudah menyerah di awal dan beranggapan bahwa percuma dilakukan dan tidak akan selesai. Penunda tipe the hopeless one perlu untuk menyambungkan lagi ke nilai diri. Hal ini karena hopeless lahir dari disconnect antara tugas dan identitas, sehingga perlu untuk menulis “kenapa hal ini penting untuk diri saya?”, dan menghubungkan dengan nilai diri (competent, reliable, growing). Hal ini akan menjadi lebih efektif karena menyalakan ulang motivasi self-concordant.
  8. The burned out one dengan karakter yang sudah merasa lelah/capek sekali. Penunda the burned out one perlu untuk mengisi ulang energi dulu baru bekerja. Hal ini karena burnout menurunkan self-regulation capacity. Hal yang perlu dilakukan ialah dengan menerapkan 10 menit break lanjut 10 menit kerja. Lakukan juga aktivitas tambahan seperti dengan minum, stretching, atau nafas dalam. Hal ini menjadi lebih efektif karena energi menjadi lebih pulih sehingga kapasitas fokus kembali. 

Dengan mengenali berbagai tipe penunda, aparatur KPU dapat lebih memahami pola kerja yang selama ini mungkin menghambat efektivitas dan ketepatan waktu dalam menjalankan tugas penyelenggaraan pemilu. Kesadaran ini menjadi langkah penting untuk membangun budaya kerja yang lebih disiplin, proaktif, dan berorientasi pada hasil. Ketika setiap pegawai mampu mengelola waktu dengan baik dan menghindari perilaku menunda, KPU Nduga tidak hanya meningkatkan kualitas koordinasi internal, tetapi juga memperkuat pelayanan publik yang cepat, akurat, dan terpercaya. Pada akhirnya, kemampuan mengendalikan kebiasaan menunda menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga integritas dan profesionalitas lembaga. (FPH)

Baca juga: Psikologi Kepemimpinan: Mengenal Gaya Humanis dan Gaya Berbasis Perilaku

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 34 kali