Berita Terkini

Apa itu Burnout?

Wamena - Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang terjadi akibat stres berkelanjutan, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan atau tuntutan hidup yang terus-menerus. Burnout bukan hanya rasa lelah biasa, melainkan kondisi serius yang dapat mempengaruhi kesehatan mental, produktivitas, hingga kualitas hidup seseorang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan burnout sebagai fenomena yang berhubungan dengan pekerjaan dan ditandai oleh tiga dimensi utama, yaitu kelelahan energi, meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional yang berdampak pada ketidakproduktifan kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah burnout semakin sering digunakan seiring meningkatnya tekanan kerja, tuntutan sosial, dan perubahan gaya hidup modern.

Burnout menjadi masalah serius karena dampaknya tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga berpengaruh pada lingkungan kerja dan sosial. Seseorang yang mengalami burnout cenderung mengalami penurunan kinerja, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, serta mudah merasa frustasi. Burnout yang disepelekan dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Di era digital saat ini, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur atau tidak jelas. Tuntutan untuk selalu produktif, responsif, dan tersedia setiap waktu menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kasus burnout di berbagai kalangan, mulai dari pekerja kantoran, tenaga pendidik, mahasiswa, hingga aparatur sipil negara (ASN).

Penyebab dan Gejala Burnout

Burnout tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang terjadi dalam jangka waktu lama. Beberapa penyebab burnout yang paling umum seperti beban kerja yang berlebihan, tekanan dan tuntutan kerja yang tinggi atau tidak realistis sesuai kemampuan, kurangnya kontrol dan penghargaan atas kinerja, tercipta lingkungan yang tidak sehat (toxic), serta mengalami ketidakseimbangan kehidupan kerja dan pribadi.

Mengenali gejala burnout sejak dini menjadi sangat penting agar dampaknya tidak semakin parah. Gejala burnout dapat muncul dalam bentuk fisik, emosional, dan perilaku, seperti, merasa lelah terus-menerus meskipun sudah beristirahat, kehilangan motivasi dan semangat kerja, lebih mudah terpancing untuk marah, sinis, atau apatis, sulit berkonsentrasi dan menurunnya produktivitas, menunjukkan gangguan tidur dan sakit kepala berulang, serta munculnya rasa tidak dihargai dan tidak bermakna. Gejala yang muncul tidak boleh dipandang sebelah mata, khususnya jika gejala-gejala tersebut berlangsung lama, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional.

Perbedaan Burnout dan Stres Biasa

Masyarakat umum menilai  burnout dengan stres biasa adalah dua hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Stres biasanya bersifat sementara dan masih memungkinkan seseorang untuk tetap berfungsi. Sementara itu, burnout bersifat kronis dan menyebabkan perasaan hampa, kehilangan arah, serta ketidakmampuan untuk pulih meskipun tekanan sudah berkurang.

Dapat dikatakan, stres membuat seseorang merasa “terlalu banyak”, sedangkan burnout membuat seseorang merasa “tidak ada apa-apa lagi yang tersisa”, sehingga dampak burnout yang tidak ditangani dapat berdampak luas, baik bagi individu maupun organisasi. Beberapa indikator dampak yang dimunculkan burnout adalah penurunan kualitas kerja dan kinerja, meningkatnya risiko kesalahan dan konflik, gangguan kesehatan mental dan fisik, menurunnya kepuasan hidup, serta tingginya tingkat absensi dan pergantian pegawai

Cara Mengatasi Burnout Secara Efektif

Mengatasi burnout membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti, mengatur ulang beban dan prioritas kerja, menciptakan keseimbangan hidup dengan menyisihkan waktu untuk istirahat, hobi, dan aktivitas yang memberi energi positif, meningkatkan kesadaran diri, mencari dukungan sosial, serta melakukan konsultasi dengan profesional seperti psikolog atau konselor yang dapat membantu menemukan strategi pemulihan yang tepat.

Pencegahan burnout tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga organisasi/instansi. Lingkungan kerja yang sehat, komunikasi terbuka, apresiasi terhadap kinerja, serta kebijakan kerja yang fleksibel merupakan langkah penting untuk mencegah burnout. Organisasi/instansi yang peduli terhadap kesehatan mental pegawainya terbukti memiliki tingkat produktivitas dan loyalitas yang lebih tinggi. (FPH)

Baca juga: Psikologi Kepemimpinan: Mengenal Gaya Humanis dan Gaya Berbasis Perilaku

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 121 kali