Tenggang Rasa, Nilai Luhur dalam Kehidupan Bersama
Wamena - Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam baik dari segi suku, agama, budaya, hingga pandangan hidup tenggang rasa menjadi nilai penting dalam menjaga keharmonisan. Tenggang rasa bukan hanya soal menahan diri, tetapi juga sikap aktif untuk menghormati dan memahami perbedaan yang ada.
Wujud Tenggang Rasa dalam Kehidupan Sehari-hari
Tenggang rasa tercermin melalui tindakan sederhana, seperti menghargai pendapat orang lain, tidak mengganggu ibadah sesama, serta menunjukkan empati kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan. Sikap-sikap kecil ini berperan besar dalam menciptakan suasana hidup yang rukun dan damai.
Menjaga Batas Hak dan Kebebasan
Tenggang rasa mengajarkan bahwa kebebasan setiap individu memiliki batas, yaitu hak orang lain. Dengan sikap tenggang rasa, masyarakat belajar untuk tidak memaksakan kehendak, menghindari sikap egois, dan lebih mengutamakan musyawarah serta saling pengertian.
Baca Juga: Ancaman di Bidang Ideologi, Ketika Nilai Bangsa Diuji di Tengah Perubahan Zaman
Peran Pendidikan dalam Menanamkan Tenggang Rasa
Penanaman nilai tenggang rasa sejak dini menjadi tanggung jawab bersama, terutama keluarga dan lembaga pendidikan. Anak-anak yang dibiasakan menghargai perbedaan akan tumbuh menjadi generasi yang toleran, dewasa, dan mampu hidup berdampingan secara damai.
Tenggang Rasa sebagai Penyejuk Sosial
Di tengah meningkatnya potensi konflik akibat perbedaan, tenggang rasa hadir sebagai penyejuk sosial. Nilai ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama dan layak dihormati, tanpa memandang latar belakangnya.
Membangun Persatuan Melalui Tenggang Rasa
Pada akhirnya, tenggang rasa bukan sekadar ajaran moral, melainkan kebutuhan bersama. Dari tenggang rasa tumbuh persatuan, dan dari persatuan lahir kehidupan bermasyarakat yang harmonis, adil, dan manusiawi.(AAZ)
Baca Juga: HAM, Hak Dasar yang Menjaga Martabat Kemanusiaan