Norma Kesusilaan, Penjaga Sunyi dalam Kehidupan Sosial
Wamena - Di dunia yang bergerak cepat dan serba digital, norma kesusilaan hadir sebagai nilai yang menjaga manusia tetap berperilaku penuh hormat dan martabat. Meski sering dianggap kuno, nilai ini justru semakin dibutuhkan untuk menjaga kehangatan sosial.
Praktik Kesusilaan di Kehidupan Sehari-hari
Di sebuah kampung di pinggiran Semarang, masyarakat masih memegang teguh sikap saling menghargai. Anak-anak diarahkan untuk sopan, tetangga saling menjaga ucapan, dan para orang tua menjadi teladan dalam bersikap pantas. Bagi mereka, kesusilaan bukan aturan kaku, melainkan wujud cinta pada kehidupan bersama.
Suara dari Para Pendidik
“Kesusilaan itu bukan untuk membatasi, tetapi untuk melindungi,” ujar Ratri, seorang guru sekolah dasar. Menurutnya, anak-anak perlu dibimbing agar memahami bagaimana kata dan sikap dapat menyakiti ataupun menghangatkan hati orang lain.
Baca juga: Ketika Norma Menjadi Penjaga Harmoni di Tengah Masyarakat
Makna Kesusilaan dalam Budaya Indonesia
Norma kesusilaan mencakup sopan santun, etika berbicara, menjaga batasan dalam pergaulan, hingga menghormati privasi. Nilai-nilai ini sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Tantangan di Era Digital
Ahli komunikasi digital mengingatkan bahwa norma kesusilaan harus hadir juga di ruang maya. Komentar dan sikap di media sosial merupakan cerminan diri. Tanpa etika, konflik dan kesalahpahaman mudah terjadi.
Menjaga Harmoni, Menjaga Kemanusiaan
Pada akhirnya, norma kesusilaan adalah jembatan hati yang menghubungkan manusia. Dengan memeliharanya, masyarakat tetap hangat, aman, dan berkarakter. Nilai-nilai ini mengingatkan kita bahwa menghormati sesama adalah bagian dari menghormati diri sendiri.(AAZ)
Baca juga: Mediasi Jembatan Damai di Tengah Persoalan