Berita Terkini

Pancasila Pelindung Kehangatan di Tengah Keberagaman Bangsa

Wamena - Di negeri dengan lebih dari 17 ribu pulau, ratusan bahasa daerah, dan beragam keyakinan, perbedaan adalah bagian paling nyata dari kehidupan sehari-hari. Namun di tengah semua keragaman itu, ada satu nilai yang menjaga semuanya tetap dalam satu wadah: Pancasila.

Pancasila bukan hanya teks dalam pembukaan UUD 1945 atau hafalan upacara. Ia menjadi napas yang mengikat bangsa ini: menuntun bagaimana masyarakat saling menghormati, saling memahami, dan tetap sejiwa meski berbeda cara hidup.

Menjaga Kehidupan Beragama dengan Rasa Hormat

Di sebuah desa di Sulawesi, warga Muslim membantu menyiapkan perayaan Natal untuk tetangga Kristiani mulai dari memasang lampu hingga membersihkan halaman gereja. Sebaliknya, saat bulan Ramadan tiba, para pemuda gereja ikut menjaga area masjid agar tarawih berjalan lancar.

Tidak ada aturan formal yang mewajibkan itu. Tapi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa membuat mereka saling menjaga kebebasan beribadah sebagai wujud keimanan yang damai.

Kemanusiaan yang Terasa dalam Tindakan

Dalam kehidupan sehari-hari, sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab terlihat ketika masyarakat bergotong royong membantu sesama tanpa melihat suku atau agama. Di kota besar seperti Jakarta, relawan dari berbagai latar belakang membantu korban banjir tanpa menanyakan identitas apa pun.

“Saat orang susah, kita manusia dulu sebelum apa pun,” kata salah satu relawan. Kalimat itu mencerminkan bagaimana Pancasila hidup dalam tindakan sederhana.

Baca juga: Ketika Norma Menjadi Penjaga Harmoni di Tengah Masyarakat

Persatuan Indonesia dalam Kisah Warga Desa

Di sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara Timur, anak-anak dari suku yang berbeda belajar di sekolah yang sama, bermain di lapangan yang sama, dan tumbuh dengan bahasa persatuan: bahasa Indonesia. Mereka datang dari keluarga yang berbeda adat, namun tetap saling menjaga.

“Itu anak kita semua,” ujar kepala desa saat berbicara tentang masa depan mereka. Persatuan Indonesia hadir bukan dalam pidato saja, tapi dalam cara masyarakat memandang satu sama lain sebagai saudara.

Musyawarah dan Kebijaksanaan yang Menyatukan

Sila keempat sering terlihat dalam musyawarah desa. Ketika ada masalah tanah, warga berkumpul, mendengar, menyampaikan pendapat, dan mencari keputusan bersama. Tidak ada suara yang lebih penting dari yang lain. Musyawarah tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi menguatkan rasa saling percaya.

Keadilan Sosial yang Menghadirkan Harapan

Keadilan sosial bukan hanya sebuah tujuan besar negara, tetapi juga harapan yang tumbuh dari tindakan kecil: pembagian air bersih bersama, donasi untuk warga kurang mampu, hingga program gotong royong di kampung. Pancasila menjadi pengingat bahwa kesejahteraan harus dirasakan semua orang.

Pancasila sebagai Rumah bagi Semua

Pada akhirnya, Pancasila menjadi seperti rumah besar yang menaungi seluruh warga Indonesia. Rumah tempat perbedaan tidak disingkirkan, tetapi dipeluk. Tempat setiap warga merasa aman menjadi dirinya sendiri, sekaligus merasa terikat dalam satu keluarga besar bernama bangsa Indonesia.

Di era modern yang penuh tantangan identitas dan perpecahan, Pancasila terus menjadi cahaya yang mengingatkan kita: keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan yang membuat bangsa ini istimewa.(AAZ)

Baca juga: Mediasi Jembatan Damai di Tengah Persoalan

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 71 kali