Tugu Salib, Ikon yang Menyapa dari Ketinggian Wamena
Wamena - Berdiri megah di atas perbukitan Wamena, Tugu Salib menjadi salah satu ikon paling dikenal di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Tampak dari udara, Tugu Salib terlihat sangat jelas seolah menyapa setiap pengunjung yang hendak mendarat di Bandara Wamena, Papua Pegunungan. Bagi banyak orang, salib raksasa ini menjadi tanda bahwa mereka telah hampir sampai di jantung Lembah Baliem.
Tak sekadar simbol religius, lokasi Tugu Salib juga telah menjadi ruang publik yang hidup. Warga dan wisatawan kerap datang untuk bersantai, berfoto, menikmati udara sejuk khas pegunungan, hingga berolahraga bersama di titik ini. Tempat ini menjadi ruang perjumpaan, antara sejarah, alam, dan masyarakat.
Jejak Sejarah dan Refleksi bagi Pegawai di Lingkungan KPU Nduga
Tugu Salib ini tidak berdiri tanpa makna. Tugu Salib merepresentasikan peristiwa penting dalam sejarah lokal: masuknya Injil ke Lembah Baliem pada tahun 1954. Tinggi tugu ini pun tidak sembarangan. Tugu Salib yang dibangun dengan tinggi 54 meter di Wio Silimo, sebagai pengingat tahun masuknya injil (1954). Meski belum seik iconic itu, Tugu Salib di Wamena punya peran serupa menjadi pengingat yang teguh.
Bagi insan KPU Nduga, keberadaan Tugu Salib bukan sekadar simbolik atau hiasan panorama yang menawan tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya keteguhan nilai dan ketulusan dalam melayani. Seperti monumen yang berdiri kukuh di tengah terpaan angin pegunungan, seorang pemimpin atau penyelenggara pemilu dituntut untuk teguh memegang integritas, setia pada prinsip, dan hadir sebagai penuntun arah di tengah masyarakat yang beragam.
Nilai-nilai spiritual dan kultural yang melekat di Tugu Salib bisa menjadi refleksi harian bahwa kepercayaan publik dibangun bukan hanya oleh aturan, tetapi oleh keteladanan dan pelayanan yang tulus.
Melalui semangat tersebut, KPU Nduga terus berkomitmen melaksanakan tugas dengan integritas, profesionalitas, dan pelayanan yang bermartabat kepada masyarakat sembari menapaki jalan demokrasi yang adil dan inklusif. (FPH)
Baca juga: 5 Fakta Unik tentang Wamena: Cuaca, Kebiasaan, Budaya, Transportasi