Berita Terkini

Bertanya Kepada Sains: Yang Mungkin Kamu Alami dalam Hidup Seiring Bertambah Usia

Wamena – Bertambah usia seringkali dipersepsikan sebagai proses alami yang berjalan begitu saja. Namun jika ditelisik lebih dalam melalui kacamata sains, bertambahnya usia membawa perubahan kompleks yang mempengaruhi cara manusia berpikir, mengambil keputusan, membangun relasi, hingga memaknai hidup. Tidak selalu terlihat di permukaan, perubahan-perubahan ini kerap dirasakan perlahan, diam-diam, dan kadang melelahkan.

Dewasa dan Beban Keputusan yang Tak Pernah Usai

Memasuki fase dewasa, hidup tidak lagi dipenuhi perayaan kecil, melainkan deretan keputusan yang harus diambil hampir setiap hari. Dari hal sederhana hingga keputusan besar yang berdampak jangka panjang, semuanya menuntut energi mental. Ilmu psikologi mengenal istilah decision fatigue dan choice overload, kondisi ketika otak kelelahan akibat terlalu banyak pilihan dan tanggung jawab. Ketika kapasitas mental terkuras, kualitas keputusan bisa menurun, memicu stres, dan membuat hidup terasa semakin berat meski tidak sedang menghadapi masalah besar.

Realitas Biaya Hidup dan Tekanan Finansial

Sains ekonomi dan psikologi sosial menunjukkan bahwa tekanan finansial merupakan salah satu sumber stres paling konsisten dalam kehidupan orang dewasa. Hidup terasa semakin mahal, bukan hanya soal kebutuhan pokok, tetapi juga perumahan, pendidikan, dan kesehatan. Survei Bank of America mencatat bahwa generasi muda, khususnya Gen-Z, melaporkan tekanan biaya hidup yang tinggi berdampak langsung pada kesejahteraan mental mereka. Ketika keuangan menjadi sumber kecemasan, rasa aman emosional pun ikut terganggu.

Lingkaran Sosial yang Mengecil, Namun Lebih Bermakna

Seiring bertambah usia, banyak orang menyadari bahwa lingkaran pertemanan mereka tidak lagi seluas dulu. Fenomena ini bukan kegagalan sosial, melainkan proses alami yang dijelaskan dalam Socioemotional Selectivity Theory oleh Laura Carstensen. Ketika manusia mulai memandang waktu sebagai sesuatu yang terbatas, mereka cenderung lebih selektif dalam membangun relasi. Jumlah pertemanan memang berkurang, tetapi kedalaman dan kualitas hubungan justru meningkat, menciptakan ikatan yang lebih tulus dan bermakna.

Proses Healing yang Tidak Instan

Banyak orang dewasa mulai menyadari bahwa pemulihan diri, baik secara mental maupun emosional, tidak bisa dicapai secara instan. Healing bukan tentang satu kali liburan, satu sesi refleksi, atau satu keputusan besar. Sains kesehatan mental menunjukkan bahwa self-care yang berdampak nyata justru berasal dari kebiasaan kecil yang konsisten, seperti menjaga batasan, beristirahat cukup, dan mengelola stres secara berkelanjutan. Tanpa konsistensi, healing hanya menjadi konsep estetis, bukan proses nyata.

Hidup yang Tidak Selalu Estetik

Media sosial sering menampilkan hidup seolah rapi, terkurasi, dan penuh pencapaian. Namun kenyataannya, hidup jarang berjalan lurus dan indah. Ada fase berantakan, lelah, dan tidak layak dipamerkan. Dalam sains kesehatan, konsep allostatic load menjelaskan bagaimana stres kronis dan tanggung jawab hidup menumpuk dalam tubuh, perlahan mempengaruhi kesehatan fisik dan mental. Kesadaran akan hal ini memberi ruang bagi manusia untuk lebih berbelas kasih pada dirinya sendiri.

Tempat Kerja Bukan Kewajiban Sosial

Dunia kerja sering kali diasumsikan sebagai tempat membangun persahabatan. Namun penelitian berjudul “Do We Need Friendship in the Workplace?” (2022) menunjukkan bahwa persahabatan di tempat kerja bukanlah syarat mutlak bagi kesejahteraan psikologis. Mendapatkan teman di kantor adalah bonus, bukan keharusan. Seseorang tetap bisa merasa cukup dan sehat secara mental tanpa harus selalu merasa diterima secara sosial di lingkungan kerja.

Menjaga Organ Dalam di Tengah Usia yang Bertambah

Perawatan wajah dan penampilan luar mungkin bisa dilakukan dengan cepat, tetapi tubuh bagian dalam menyimpan cerita berbeda. Seiring usia bertambah, organ tubuh semakin rentan terhadap dampak stres kronis. Ilmu kesehatan menegaskan bahwa stres tidak hanya mempengaruhi emosi, tetapi juga fungsi jantung, sistem imun, dan metabolisme. Mengurangi konflik yang tidak perlu dan debat tanpa ujung bukan tanda kalah, melainkan bentuk perlindungan diri.

Tidak Ada Manual Menjadi Dewasa

Sains dan pengalaman hidup sepakat pada satu hal: tidak ada satu pun manusia yang benar-benar tahu cara menjadi dewasa. Semua orang sedang belajar sambil berjalan, mencoba, gagal, lalu bangkit lagi. Bertambah usia bukan tentang menjadi sempurna, melainkan menjadi lebih sadar akan batas, kebutuhan, dan nilai hidup sendiri. Jika kamu merasa sedang belajar dan tertatih, itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa kamu sedang hidup. (FPH)

Baca juga: Menapaki Masa Depan yang Lapang: Memaafkan Diri Sendiri

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 52 kali