Apa yang Dapat Dipelajari ASN dari Cara Shin Tae-yong Menyatukan Timnas Indonesia?
Wamena – Perbedaan merupakan ciri khas dari bangsa Indonesia. Perbedaan bukan sekedar data di atas kertas melalui ruang ganti Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Mulai dari bahasa, budaya, kebiasaan, hingga latar belakang hidup para pemain bertemu dalam satu ruang yang sama yaitu Timnas Indonesia. Di sanalah sosok pelatih kelas dunia yang berani mempertaruhkan reputasinya yaitu Shin Tae-yong yang tidak hanya sebagai pelatih namun menjadi pemimpin bagi pemain-pemain Timnas Indonesia yang beragam.
Timnas Indonesia: Miniatur Keberagaman Bangsa
Skuad yang dimiliki Timnas Indonesia di era Shin Tae-yong mencerminkan wajah Indonesia yang sesungguhnya. Komposisi pemain Timnas Indonesia representasi dari kemajemukan bangsa. Pemain lokal hingga pemain keturunan bersatu untuk nama Indonesia.
Shin Tae-yong memiliki tantangan besar untuk menyatukan pemain Timans Indonesia dalam visi bersama yaitu berjuang untuk Merah Putih. Tidak terdapat perlakuan Istimewa berdasarkan latar belakang karena setiap pemain dituntut bekerja keras dan menjunjug profesionalisme.
Disiplin sebagai Bahasa Universal
Bahasa universal untuk meyatukan kemajemukan pemain Timnas Indonesia adalah kedisiplinan. Aturan yang ditetapkan oleh Shin Tae-yong berlaku untuk semua pemain Timnas Indonesia sehingga tidak ada keistimewaan nama besar pemain, asal, atau nilai pasar dari pemain.
Pendekatan Shin Tae-yong perlahan membangun kepercayaan pemain Timnas Indonesia bahkan penikmat bola di seluruh Indonesia. Para pemain Timnas Indonesia dan penikmat bola belajar bahwa hasil dari melatih kedisiplinan adalah konsistensi. Hal ini yang selalu menjadi daya tarik penikmat bola di Indonesia.
Cermin ASN, Merawat Perbedaan, Merawat Tujuan
Apa yang terjadi di Timnas Indonesia sesungguhnya dekat dengan keseharian Aparatur Sipil Negara (ASN). Di kantor pemerintahan, perbedaan etnis, suku, budaya, dan agama adalah keniscayaan.
ASN bekerja dalam sistem yang menuntut profesionalisme dan netralitas. Di sinilah kepemimpinan ASN diuji: apakah mampu merawat perbedaan tanpa kehilangan arah dan kinerja. Bagi ASN mendapatkan pelajaran yang relevan dan kontekstual. Di negeri yang majemuk, kepemimpinan inklusif bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata. (STE)
Baca juga: Setahun Ditinggal Shin Tae-yong, Timnas Indonesia Gagal Total: Pelajaran Disiplin untuk ASN