Berita Terkini

Let Them Theory: Prinsip Kecil untuk Hidup yang Lebih Tenang

Wamena – Menjalani ritme yang bergerak cepat, tanpa disadari manusia jarang berhenti dan berpikir untuk terus bergerak seperti arus sungai yang tak pernah surut, ada satu kenyataan yang semakin terasa: manusia kelelahan bukan semata karena pekerjaan. Kelelahan muncul dari kebiasaan mengatur hal-hal yang berada jauh di luar jangkauan, dari ekspektasi yang menuntut, komentar yang tidak selalu kita minta, hingga kesalahpahaman yang tak kunjung reda. Pelan-pelan, hal-hal kecil itu menggerogoti ketenangan

Mel Robbins dan Let Them Theory: Sebuah Jeda dalam Keriuhan 

Motivator internasional Mel Robbins memperkenalkan sebuah pendekatan bernama Let Them Theory, sebuah teori yang terdengar sederhana, namun justru menggambarkan realitas manusia modern dengan sangat jelas.

Teori ini mengajarkan:

  • Jika orang lain ingin pergi, biarkan.
     
  • Jika mereka melihat dirimu dengan cara yang keliru, biarkan.
     
  • Jika seseorang mengambil keputusan yang menurutmu tidak masuk akal, biarkan.
     

Let them bukan ajakan untuk tidak peduli, tetapi pelajaran tentang kedewasaan emosional, bahwa hidup menjadi jauh lebih ringan ketika kita berhenti mencoba memperbaiki segala sesuatu yang bukan tanggung jawab kita.

Let Them Bukan Tentang Menyerah, tapi Tentang Menjaga Diri

Dalam dinamika hidup yang terus bergerak seperti roda yang tak berhenti, Let Them Theory menjadi sebuah cara untuk menepi tanpa harus menghilang. Ia menciptakan ruang kecil namun penting yang memungkinkan kita menarik napas panjang dan kembali mengenali diri sendiri.

Let them mengingatkan bahwa kontrol manusia selalu terbatas. Tidak semua hal harus kita genggam. Tidak semua dinamika harus kita rasakan terlalu dalam. Setelah membiarkan dunia berjalan dengan ritmenya sendiri, teori ini mengajak kita untuk menengok ke dalam:

Let me choose what matters.

Let me protect my energy.

Let me walk away when needed.

Dalam dunia yang bereaksi cepat, “Let me” adalah jeda. Jeda yang mengingatkan bahwa keputusan paling berharga sering kali tidak berbentuk teriakan, melainkan bisikan hati: “cukup untuk hari ini.”

Terlalu Banyak Opini, Terlalu Sedikit Ruang untuk Diri Sendiri

Setiap pagi, manusia memiliki kebebasan untuk mengakses ribuan opini hanya dengan menggulir layar smart phonenya. Akibatnya, kita menjadi tahu terlalu banyak tentang orang lain, bahkan orang yang tidak kita kenal. Kita terseret dalam percakapan, ekspektasi dan dinamika yang bukan milik kita. 

Lama-kelamaan, batas personal menjadi kabur. Energi terkuras bukan untuk hal penting, tetapi untuk reaksi spontan terhadap dunia yang tidak pernah berhenti berbicara.

Di sinilah Let Them menjadi seperti pintu keluar yang sederhana namun penuh makna. Ia mengembalikan kita pada pengalaman menjadi manusia yang lebih pelan, lebih jernih, lebih sabar, dan lebih jujur terhadap apa yang kita butuhkan.

Let Them Theory: Relevan untuk Hidup yang Lebih Tenang

Di tengah ritme yang dinamis, Let Them Theory menjadi pengingat penting untuk menjaga ketenangan batin. Hidup di dunia yang penuh tantangan membutuhkan ruang untuk menyaring mana yang perlu dipikirkan dan mana yang cukup dibiarkan berlalu.

Hidup tidak harus menjadi perlombaan untuk memahami semua orang. Kadang, kedewasaan justru hadir ketika kita berani berkata:  “Biarkan. Itu bukan bagian saya.”

Let Them Theory mengajak kita untuk kembali pada inti kehidupan modern: manusia hanya dapat mengendalikan sebagian kecil dari dunia. Sisanya adalah latihan melepaskan.

Ketika seseorang mampu mengatakan let them, ia sebenarnya sedang mengatakan let me dengan membiarkan dirinya menjaga ketenangan, memilih yang penting, dan mengambil langkah mundur ketika dunia terasa terlalu bising.

Pada akhirnya, di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus bergerak, melepaskan adalah cara lain untuk mencintai diri sendiri. (FPH)

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 42 kali