Era Pasca Sir Alex Ferguson : Mengapa Manchester United Gagal Bangkit dan Relevansinya bagi ASN
Wamena – Siapa yang tidak mengenal Sir Alex Ferguson? Sosok pelatih yang membuat klub Manchester United menjuarai berbagai kompetisi baik di Inggris maupun Eropa. Ia membangun budaya kedisiplinan, karakter, dan identitas permainan yang khas. Namun setelah kepergiannya, Manchester United seolah tidak menemukan pengganti yang sesuai hingga berulang kali gagal dalam liga Inggris maupun tidak masuk kompetisi Eropa dalam beberapa tahun belakang ini.
Krisis Identitas Kepergian Sir Alex Ferguson
Sir Alex Ferguson bukan saja sebagi pelatih melainkan ia juga arsitek yang membangun Manchester United menjadi raksasa Eropa. Manchester United mengalami pasang surut prestasi selama bertahun-tahun pergantian pelatih.
Kondisi yang menunjukkan bahwa pemipin yang kuat dapat menciptakan stabilitas. Di sisi lain ketika kita sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) hanya mengandalkan sosok pemimpin tanpa membangun kapasitas diri dengan keberlanjutan dalam hal kepemimpinan maka akan berpengaruh terhadap sistem ke depan.
Pentingnya Perencanaan Kepemimpinan Strategis
Salah satu penyebab Manchester United terpuruk adalah masa transisi yang kurang baik. Pelatih yang meneruskan tugasnya di bawah bayang-bayang Sir Alex Ferguson. Beragam harapan yang digaungkan oleh penggemar Manchester United membuat Manchester United belum mampu bangkit dan menemukan suksesi kepelatihan Sir Alex Ferguson.
Begitu pula apabila ASN tidak memiliki arah dan rancangan dalam membentuk kepemipinan yang baik. Tata Kelola perencanaan untuk menciptakan kepemimpinan dalam diri ASN, yaitu:
- Perencanaan jangka Panjang kepemimpinan.
- Standarisasi kerja dan kinerja.
- Komitmen menjaga kualitas pelayanan.
- Transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan antargenerasi.
Pelajaran Bagi ASN: Keberlanjutan Kepemimpinan
Kasus Manchester United yang terombang-ambing dalam setiap kompetisi Inggris maupun Eropa. Pelajaran yang menarik untuk ASN bahwa keberhasilan jangka panjang diperoleh dari konsistensi dalam pemimpin mampu melahirkan sosok pemimpin yang kharismatik selanjutnya.
Pemimpin yang hebat mampu mencetak pemimpin berikutnya dengan tidak bergantung pada dirinya selama menjalankan sistem kerja. Budaya baik yang perlu dipertahankan akan dilanjutkan oleh pemimpin selanjutnya. Pemimpin yang melanjutkan tongkat estafet pemimpin sebelumnya harus berani menjalankan organisasi yang tetap berjalan stabil, professional, dan berorientasi pada tujuan meskipun terjadi perubahan kepemimpinan. (STE)
Baca juga: Lagu Glory Glory Man United jadi Sumber Semangat Baru dalam Bekerja: Irama Sepak Bola, Gairah Kerja Demokrasi